Penjualan Sepi Akibat Covid-19, Petani Sayuran di Pangalengan Siasati dengan Manfaatkan Media Sosial

ilustrasi orang menggunakan Facebook. Getty Images

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Mewabahnya Covid-19 membuat sejumlah petani sayuran di Pangalengan Kabupaten Bandung harus memutar otak agar dagangan hasil panennya tetap laku terjual di pasaran. Pasalnya, sejumlah pasar dan pusat perbelanjaan kini sudah mulai sepi pembeli.

Akibat sepinya pembeli di pasar bahkan permintaan pasokan ke sejumlahb pasar yang kian menurun, ratusan ton hasil panen para petani sayuran di Pangalengan hampir tak terserap. Untuk itu, agar transaksi jual beli tetap lancar, sejumlah petani di Pangalengan memanfaatkan instagram dan WhtasApp sebgai peranti transaksi jual belinya.

Ade salah seorang petani sayuran warga Kampung/Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan yang ikut memanfaatkan dua platform media sosial mengatakan cukup terkejut dengan hasilnya. Sebab, dengan hanya memanfaatkan media sosial saja, sejak kemarin ia kebanjiran lebih dari 3000 pesanan yang datang tak hanya dari wilayah Bandung Raya saja, melainkan juga dari Jakarta. Untuk penjualan langsung ini ia hanya menambah ongkos kirim sebesar Rp 5000 per setiap pesanan.

Baca Juga:   Banjir Cileuncang di Warunglobak, Warga: Drainase Menyempit dan Dangkal

“Tadinya saya berpikir bagaimana menyelamatkan sayuran ini. Saya coba jual lewat media sosial, eh ternyata responnya bagus, mungkin karena masyarakat banyak diam di rumah yah. Pesanan sampai 3000 itu tidak bisa saya layani semua, soalnya saya personil cuma ada 4 orang. Begitu juga pesanan ke Jakarta enggak bisa saya kirim karena akomodasinya terlalu tinggi yah,” katanya saat dihubungi via telepon, Kamis 26 Maret 2020.

Menurut dia, pemanfaatan media sosial untuk transaksi jual beli tak hanya dilakukan olehnya. Hampir semua petani di Pangalengan melakukan hal serupa. Sebab, jika penjualan tidak disiasati, maka sayuran hasil panen akan membusuk dan petani akan merugi.

“Biasanya kan kami jual ke Pasar Induk Caringin, ke Bekasi dan juga beberapa pasar lainnya di Bandung Raya dan Jawa Barat. Namun karena kebanyakan pasarnya juga sepi yah hasil panen kami enggak bisa sepenuhnya diserap oleh pasar. Ada penurunan lebih dari 50 persen yang enggak bisa dikirim ke pasarnya. Biasanya dalam sehari itu saya saja kirim 4 hingga 5 ton, nah sejak seminggu ini sehari paling cuma 1,5 ton saja,” kata dia.

Baca Juga:   Disnaker Kabupaten Bandung Tengah Berupaya Memulangkan Yayah dari Arab Saudi

Dikatakan Ade, saat ini harga jual sayuran seperti sawi dan tomat memang lumayan bagus. Yakni tembus Rp 5000 perkilogram, padahal biasanya hanya sekitar Rp 3000 perkilogram. Namun sayangnya, meskipun harga bagus, tapi serapan pasar sangat rendah. Sehingga hasil panen yang melimpah ini terancam busuk dan merugikan mereka.

“Sawi dan tomat itu paling lama tahan dua hari, kalau lebih dari itu busuk. Kalau kentang sih masih mendingan soalnya bisa tahan lebih dari seminggu,” ujarnya.

Ade menejelaskan, di Kecamatan Pangalengan terdapat lebih dari 1000 orang petani sayuran dengan luas kebun kecil dan menengah. Jumlah itu belum ditambah dengan petani skala besar. Sehingga wajar jika selama ini sayuran dari Pangalengan ini banyak tersebar diberbagai pasar di Jawa Barat dan Jakarta. Adanya wabah virus Corona tentu saja sangat merugikan mereka.

Baca Juga:   UPDATE Covid-19 Jawa Barat 6 Mei 2020: 1.300 Positif, 87 Meninggal, 167 Sembuh

“Semoga saja wabah ini segera berakhir. Karena kami para petani terkena imbasnya, banyak orang yang bergantung dari sektor pertanian ini. Kalau terus-terusan bisa benar-benar lumpuh perekonomian rakyat,” ujarnya.(put/ras)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here