Niat Cegah COVID-19, Pria di Texas Amerika Meninggal Dunia Setelah Minum Klorokuin

RS Banner Health, Amerika Serikat. (Foto: Mark Henle via The Republic)

NOTIF.ID, AMERIKA – Rumah sakit Banner Health, Amerika serikat, telah mengumumkan, seorang pria meninggal, dan istrinya dalam perawatan kritis akibat minum chloroquine phosphate (Klorokuin) di daerah Phoenix, AS, pada Selasa, 24 Maret 2020.

Menurut keterangan NBCnews, hal itu diketahui usai Presiden Amerika, Donald Trump menggembar-gemborkan Klorokuin saat konferensi pers sebagai kemungkinan pengobatan untuk Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Menurut pengakuan Istrinya kepada Banner Health yang kini sedang dirawat, hal itu dilakukannya dan suaminya sebagai upaya pencegahan sendiri dari COVID-19.

Banner Health menduga mereka tak menggunakan versi farmasi dari obat tersebut, tetapi menggunakan klorokuin yang diperuntukkan untuk membersihkan tangki akuarium.

“sebuah zat tambahan yang biasa digunakan di akuarium untuk membersihkan tangki ikan,” kata Banner Health, yang dikutip dari CNN, 24 Maret 2020.

Baca Juga:   Kasus Positif Corona Makin Bertambah, Pemprov DKI Jakarta akan Perpanjang Masa PSBB

Tujuh tahun yang lalu, publikasi Advanced Aquarist, menyatakan tiga bentuk Klorokuin sebagai obat baru untuk mengobati penyakit ikan dan merinci efektivitasnya dalam memerangi parasit tertentu di akuarium air asin.

Dalam kasus ini Banner Health tak memberikan secara terperinci. Menurut  laporan NBCnews, mereka melakukannya karena mereka “takut sakit”.

“Saya punya zat itu di rumah karena saya dulu punya ikan koi,” katanya … Saya melihatnya di rak belakang dan berpikir, ‘Hei, bukankah itu hal-hal yang mereka bicarakan di TV?,” katanya.

Baca Juga: Obat Anti COVID-19 Diburu Warga, Apa Itu Avigan dan Klorokuin?

Obat klorokuin memang sudah disetujui oleh Food and Drug Administration untuk mengobati malaria, lupus dan rheumatoid arthritis, tetapi FDA belum menyetujui untuk mengobati virus Corona.

Baca Juga:   Angka Kematian Akibat Covid-19 di Italia Terus Meningkat, Tembus Hingga Lebih dari 10.000 Jiwa

“obat-obatan dan produk rumah tangga yang tidak tepat lainnya tidak boleh diminum untuk mengobati atau mencegah virus ini.” menurut Pakar Kesehatan dari Banner Health menekankan.

Direktur medis dari Pusat Informasi Racun dan Obat-Obatan Banner Health, Daniel Brooks mengatakan, ditengah ketidakpastian pandemi global COVID-19, dirinya sangat memahami bahwa masyarakat panik dan berusaha untuk mencegah terjangkitnya virus mematikan ini.

“Mengingat ketidakpastian di sekitar COVID-19, kami memahami bahwa orang-orang berusaha menemukan cara baru untuk mencegah atau mengobati virus ini … Tapi mengobati sendiri bukanlah cara untuk melakukannya.” katanya.

Obat malaria Klorokuin memang telah digunakan oleh para dokter di China dan sejumlah negara lain untuk mengobati para pasien infeksi COVID-19.

Baca Juga:   Cegah Penyebaran Covid-19, Pemerintah Minta agar Masyarakat Menunda untuk Pulang Kampung

Namun, penggunaan obat tersebut bersifat eksperimental karena belum tersedia obat dan vaksin untuk infeksi COVID-19.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam mengatakan, bahwa obat malaria Klorokuin tergolong obat keras.

Diketahui di Indonesia sendiri, katanya, penjualan obat Klorokuin itu dijual bebas kepada masyarakat dari sejumlah apotek.

Ari mengimbau, masyarakat Indonesia tak panik hadapi wabah virus Corona.

“Jika salah menyimpannya bisa menjadi racun, dan jika penggunaannya salah bisa merusak ginjal dan liver,” ungkapnya, kepada Tempo.co, pada Jumat, 20 Maret 2020. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here