Obat Anti COVID-19 Diburu Warga, Apa Itu Avigan dan Klorokuin?

  • Whatsapp
Ilustrasi hasil tes virus Corona. (Foto: Freepik)
Perkiraan waktu baca: 5 menit

NOTIF.ID, JAKARTA – Obat malaria Chloroquine Phosphate (Klorokuin) memang telah digunakan oleh para dokter di China dan sejumlah negara lain untuk mengobati para pasien infeksi COVID-19.

Namun, penggunaan obat tersebut bersifat eksperimental karena belum tersedia obat dan vaksin untuk infeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Read More

Dikutip dari Tempo.co, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam mengatakan, bahwa obat malaria Klorokuin tergolong obat keras. Ari mengimbau, masyarakat tak panik hadapi wabah virus Corona. Diketahui, katanya, penjualan obat itu memicu adanya penjualan bebas kepada masyarakat dari sejumlah apotek.

Ari yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam itu mengatakan, bahwa Klorokuin bukan obat sembarangan.

“Jika salah menyimpannya bisa menjadi racun, dan jika penggunaannya salah bisa merusak ginjal dan liver,” katanya, pada Jumat, 20 Maret 2020.

Lulusan Ilmu Biomedik FKUI itu juga meminta agar apotek tidak sembarangan memberikan obat kepada masyarakat.

“Jika ada yang memberikannya sembarangan maka itu urusannya harus dengan kepolisian, karena itu obat keras,” katanya menegaskan.

Sebelumnya, Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) di istana negara, Jakarta, pada Jumat 20 Maret 2020 telah menerangkan, bahwa saat ini pemerintah telah memesan sejumlah besar obat-obatan, seperti avigan dan klorokuin untuk membantu kesembuhan terinfeksi virus Corona.

Baca Juga: Ikhtiar Bantu Kesembuhan Pasien COVID-19 di Indonesia, Presiden Jokowi Pesan Obat Avigan dan Klorokuin

Informasi itu, mendorong masyarakat untuk membeli dan menyetok obat tersebut. Seperti yang terjadi dalam sebuah grup percakapan warga sebuah permukiman di Tangerang Selatan.

“Obat Choroquine (pilkina utk malaria) yg saat ini digunakan di Amerika utk mengobati penderita yg kena covid 19,”

“Mungkin bisa di stok di rw 13 utk jaga2 sbg langkah awal pertolongan jika ada yg demam yg mengarah akibat covid 19 ya,” tulis di dalam grup percakapan warga sebuah permukiman di Tangerang Selatan.

Seorang apoteker di bilangan Jakarta Selatan menanggapi pertanyaan untuk mendapatkan Klorokuin itu, menurutnya, tablet pil kina tidak bisa untuk pencegahan virus Corona. Sedang untuk pengobatan malaria butuh dosis 4×100 mg dan pemakaian harus dipantau.

Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa pemerintah telah menyiapkan obat yang diyakini ampuh untuk menyembuhkan pasien COVID-19 yakni Avigan dan Klorokuin. Namun, apa itu obat Avigan dan Klorokuin?

AVIGAN

Avigan (Favipiravir) adalah obat antivirus dari Jepang yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang, yaitu Fujifilm Toyama Chemical, dan diproduksi oleh Zheijang Hisun Pharmaceutical.

Pada dasarnya, Avigan dikembangkan untuk mengobati virus influenza. Bulan lalu, Avigan tersebut diakui sebagai pengobatan eksperimental untuk pasien COVID-19.

“Obat ini memiliki tingkat keamanan yang terbukti tinggi dan jelas efektif untuk digunakan (melawan virus corona),” tutur Zhang Xinmin dari Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China kepada The Guardian.

Situs Live Science menyebutkan, Avigan secara khusus dibuat untuk mengobati virus RNA. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 memang memiliki materi genetik utama RNA, bukan DNA.

Obat ini menghentikan replikasi virus dengan melumpuhkan enzim yang disebut RNA Polimerase.

Baca Juga: Kasus COVID-19 di Indonesia Bertambah, China Malah Sudah Temukan Obat Penawarnya

Menurut jurnal Proceedings of Japan Academy, Ser.B, dan Physical and Biological Science, tertulis bahwa tanpa adanya enzim utuh, virus tidak dapat menggandakan materi genetik secara efisien dalam sel inang.

Avigan menunjukkan hasil positif dalam uji klinis yang melibatkan 340 orang di Wuhan dan Shenzhen. Empat hari usai diberikan obat tersebut, para pasien COVID-19 dites kembali dan menunjukkan hasil negatif.

Meski begitu, setengah pasien yang dites menunjukkan hasil negatif lebih awal, dan setengahnya lagi lebih dari empat hari.

Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapat obat Avigan. Ahli melihat bahwa pasien baru dinyatakan negatif dalam kurun waktu 11 hari pasca-tertular.

Kondisi paru-paru yang ditunjukkan oleh sinar-X memperlihatkan adanya perbedaan besar antara pasien COVID-19 yang mengkonsumsi Avigan dengan mereka yang tidak.

Pada pasien yang mengkonsumsi obat Avigan tampak kondisi paru meningkat 91 persen. Sedangkan yang tidak mengkonsumsi obat Avigan, kualitas paru meningkat hanya 62 persen.

Sementara itu, dalam uji coba di Wuhan, Avigan tampak memperpendek durasi demam pasien, dari rata-rata 4,2 hari menjadi 2,5 hari.

Di Jepang, Avigan memang diresepkan bagi pasien COVID-19 yang memiliki gejala ringan hingga sedang. Ahli menemukan bahwa obat ini kurang efektif jika diberikan pada pasien yang memiliki gejala berat.

“Kami telah memberikan Avigan kepada 70 sampai 80 orang. Obat ternyata tidak berfungsi dengan baik ketika virus sudah berlipat ganda di tubuh pasien,” kata narasumber dari Kementerian Kesehatan Jepang, kepada surat kabar Mainichi Shimbun.

KLOROKUIN

Klorokuin fosfat (chloroquine phosphate) merupakan senyawa sintetis (kimiawi) yang memiliki struktur sama dengan quinine sulfate. Quinine sulfate berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina, yang selama ini juga menjadi obat bagi pasien malaria.

Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran (Unpad), Keri Lestari, mengatakan bahwa kedua struktur tersebut (quinine sulfate dan chloroquine phosphate) memiliki manfaat yang sama dalam proses penyembuhan penyakit malaria.

Klorokuin memang menjadi salah satu senyawa yang dianggap sebagai kandidat antivirus untuk COVID-19. Penelitian telah dilakukan oleh Wuhan Institute of Virology dari Chinese Academy of Sciences.

Penelitian tersebut dilakukan oleh ahli virologi Manli Wang bersama timnya, dan telah dipublikasikan dalam jurnal Nature. Berdasarkan penelitian awal, klorokuin dapat menghambat kemampuan virus baru untuk menginfeksi dan tumbuh di dalam sel saat diuji pada kera.

Situs Science News menyebutkan, bahwa klorokuin dapat memblokir infeksi virus dengan mengganggu kemampuan beberapa virus, termasuk SARS-CoV-2, untuk memasuki sel.

Klorokuin juga dapat membantu sistem kekebalan tubuh melawan virus tanpa jenis reaksi berlebihan, yang dapat menyebabkan kegagalan organ,” ungkap para peneliti.

Pakar Farmakologi & Clinical Research Supporting Unit FKUI, dr Nafrialdi menjelaskan, sebelumnya menekankan perlunya uji klinis untuk dapat menetapkan klorokuin sebagai obat untuk melawan virus Corona.

Nafrialdi juga memiliki kekhawatiran karena klorokuin sebagai obat antimalaria juga sudah tidak lagi digunakan karena banyaknya kasus resisten malaria di sejumlah wilayah, termasuk Papua. Kendati demikian, apabila memang klorokuin dapat menjadi obat bagi pasien COVID-19, maka itu merupakan sinyal awal.

“Itu mungkin hanya sinyal awal, tapi jangan langsung diterjemahkan bisa langsung dipakai. Perlu dilakukan serangkaian uji klinis untuk bisa menyatakan obat antimalaria menjadi obat virus corona,” kata Nafrialdi kepada Kompas.com, pada Kamis, 12 Maret 2020.

Presiden Jokowi memang mengakui belum ada antivirus yang pasti dapat menyembuhkan COVID-19. Namun, pemerintah tetap ikhtiar mencari solusi dengan memesan obat-obatan itu yang dikatakannya dapat terbukti membantu kesembuhan terinfeksi virus Corona.

“Ya, pertama antivirus sampai sekarang belum ditemukan, tapi ada beberapa obat yang dicoba di 1, 2, 3 negara yang memberi kesembuhan,” kata Jokowi. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Kesal dengan orang yg kadang sok pintar, jelas jelas di kemasan obat berlabel biru bukan merah.
    Jelas jelas terbukti ampuh untuk pandemi di Cina, asal virus ini.
    Keampuhannya urusan farmakolog bukan penyakit dalam.

    Pikir itu pelita hati.
    Sok pintar malah dibenci