Secarik Kemben dan Peradaban Wanita di Nusantara

Elok Busana kemben, terpatri dalam potret kecantikan Wanita Indonesia di Masa lampau. (Foto: vrouw-te-soerakarta-1915)

NOTIF.ID, HISTORI – Bertelanjang dada bagi perempuan di Indonesia pada masa lalu merupakan hal yang lumrah. Tak ada tudingan porno ataupun pamer keseksian. Di masa tersebut, hal itu tak menumbuhkan rasa birahi bagi kaum laki-laki di Indonesia, karena tak dianggap sebagai hal yang taboo. Karena, tradisi ketika itu belum mengenal penutup dada seperti zaman modern ini.

Sebelum datangnya masa penjajahan, kebanyakan wanita-wanita di bumi Nusantara tak mengenal istilah kata bra atau kutang. Pada umumnya, mereka hanya menutupi bagian di bawah dadanya saja dengan selembar kain jarik (kain khas Jawa yang mempunyai motif batik dengan berbagai corak) dan bagian dadanya dibiarkan terbuka.

Sebuah alasan mengapa para wanita di bumi Nusantara tak mengenakan atasan atau kain penutup dada pada kala itu, karena pada masa itu para wanita yang tinggal di daerah terpencil tak mendapatkan supply kain dan jauh dari pusat peradaban, di mana kain bisa jadi dianggap barang mewah bagi mereka.

Hal ini terlihat dari gambaran dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. Seperti di pusat-pusat kerajaan, Kala itu tergambarkan bahwa perempuan Nusantara yang mengenakan kemben dan berbaju nampak lebih sering ditemukan.

Tak hanya itu, sebuah filosofi tata berpakaian dalam masyarakat Jawa kuno bisa dibilang menandakan strata kelas sosial bagi para wanita bangsawan kerajaan pada masa itu.

Perlahan-lahan, setelah distribusi kain merata, keberadaan kain jarik yang berfungsi sebagai kemben semakin mudah, dada perempuan-perempuan Nusantara pun makin tertutup dan terjaga.

Wanita Bali tempo dulu. Foto: disinibaliutd)

Namun, ada sebuah cerita dari seorang penulis legendaris, Yapi Panda Abdiel Tambayong atau yang akrab dipanggil Remy Sylado, soal bagaimana para perempuan di bumi Nusantara mengenal bra atau kutang pada masa penjajahan.

Dalam novel “Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil” yang telah dipublish pada tahun 2007. Ia menceritakan, ketika pembangunan jalan raya pos Anyer Panarukan dilakukan atas perintah Deandels yang berkuasa dari 1808 hingga 1811, masyarakat Jawa turut dipekerjakan baik lelaki dan perempuan.

Ketika itu, bangsawan berdarah Spanyol-Perancis, Don Lopez Comte de Paris yang menjadi mandor, melihat perempuan Jawa yang turut membangun jalan raya pos Anyer Panarukan tanpa mengenakan penutup di bagian dadanya.

para perempuan itu hanya terlihat memakai pakaian yang menutup bagian bawah tubuh mereka, sehingga dada mereka terlihat merekah dan ranum.

Melihat hal tersebut, wajah Don Lopez seketika memerah. Lalu dirinya memberi sebuah kain pada perempuan pribumi tercantik diantara mereka dan menyuruhnya agar menutup bagian berharga di atas perutnya itu.

“Coutant! Coutant!” perintah Don Lopez. Kebetulan dalam bahasa Perancis, berharga diartikan sebagai coutant.

Nampaknya, di masa lalu, kata kutang punya makna yang luas, tak hanya penutup dada perempuan. Belakangan ini, orang Indonesia mengucapkannya sebagai “kutang”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutang dimaknai sebagai pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara atau baju tanpa lengan.

Kata koetang, dalam ejaan lawasnya, sering dipakai setidaknya di zaman kolonial. Seringkali juga dapat ditemukan dalam bacaan-bacaan dalam bahasa Melayu.

Dalam kamus bahasa Makassar-Belanda berjudul “Makassaarsch-Hollandsch Woordenboek met Hollandsch-Makassaarsch” (1859), yang disusun oleh Benjamin Matthes, koetang di artikan sebagai borstrok, yang artinya pakaian di dalam yang berbentuk seperti rompi.

Sementara dalam kamus Belanda Melayu Sunda, “Nederduitsch-Maleisch en Soendasch woordenboek” (1841), yang disusun oleh Taco Roorda dan Andries de Wilde, kutang dalam bahasa Sunda bisa berarti sebagai pakaian dalam dan juga kemeja.

Dalam film “The Legong Dance of the Virgin”, yang dibuat rumah produksi Amerika di tahun 1933, kehidupan perempuan Bali terpatrikan dalam gambar bertelanjang dada. Film ini berkisah soal cinta segitiga yang berakhir tragis bagi seorang gadis penari legong.

Selain film itu, digambarkan pula dalam film dokumenter “Moeder Dao” (1995), terdapat dokumentasi perempuan-perempuan bertelanjang dada di sebuah daerah di Indonesia sekitar tahun 1930.

Eksistensi Kemben Dalam Karya Sastra dan Pahatan Relief

Kakawin Sumanasāntaka, karya dari Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M, menggambarkan bagaimana pakaian orang-orang pada masa lalu. Selain dari karya sastra, informasi itu juga muncul dalam relief candi dan prasasti.

Diceritakan dalam sepenggal cerita, bahwa Putri Indumati, ina dan uwa-nya, bersolek mengenakan baju merah. Keduanya belum terlalu tua. Rambut mereka bergelombang, diselingi warna kelabu.

Lalu para dayang belia datang bagaikan dewi, mengenakan kemben kain wulang emas. Selendang emas murni yang mereka sampirkan pada bahu tampak berkilauan seperti sayap untuk terbang. Mereka masih keturunan bangsawan sahabat raja. Mereka tengah menghadiri sayembara memperebutkan Putri Indumati.

Menurut sejarawan dan sastrawan Jawa Kuno, Petrus Josephus Zoetmulder menyebutkan, kain wulang merupakan perangkat busana perempuan pada saat seremonial penting. Bentuknya, berupa secarik kain dengan panjang sekitar lima belas kaki yang dililitkan pada batang tubuh. Kain Wulang menutupi tubuh dari pinggang sampai batas atas payudara.

Baca Juga:   Terjangkit Virus Corona Dua Penumpang Diamond Princess Meninggal, Indonesia Segera Evakuasi 74 WNI dari Yokohama

Perlengkapan sandang yang dipakai pada abad ke-13 M itu, sedikit berbeda dengan cara berpakaian empat abad sebelumnya. Seorang sejarawan dan juga sastrawan, Inda Citraninda Noerhadi mengatakan, dalam bukunya “Busana Jawa Kuna” mengelompokkan jenis pakaian yang dijumpai dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur.

Kebanyakan, khususnya perempuan, digambarkan tak menutupi bagian payudara. Pakaian perempuan paling sederhana hanya selembar kain. Panjangnya sebatas lutut. Cara pakainya diputar di badan dari arah kiri ke kanan dan berakhir di sisi kanan.

Kain tersebut dipakai di bawah pusar. Mereka tak memakai perhiasan hanya saja anting-anting sederhana. Terkadang dilengkapi selendang atau kain kecil di bagian pinggang.

Adegan Sinta dan Trijata yang memakai kemben dan kain dalam relief Ramayana di Candi Panataran, Blitar. (Foto: Indonesieverleden).

Dalam pahatan relief, perempuan juga digambarkan memakai kain dari sebatas bawah pusar hingga mata kaki atau pergelangan kaki. Mereka biasanya memakai kalung, anting-anting, dan ikat pinggang berupa kain. Hiasan di kepala berupa rambut yang disusun ke atas atau disanggul.

Sebagian lainnya, menggunakan pakaian berupa kain panjang yang sama seperti sebelumnya. Namun, dihiasi dengan ikat di bagian pinggul dengan hiasan permata dua susun.

Pakaiannya lebih kaya dengan beragam perhiasan, gelang, kalung, anting-anting, kelat bahu hingga gelang kaki. Dipakai juga semacam tali polos yang diselempangkan dari bahu kiri ke pinggang kanan. Hiasan kepalanya berupa susunan rambut yang diangkat tinggi dan diberi tambahan dengan hiasan permata.

Sementara untuk pakaian pria, yang paling sederhana hanya memakai kain serupa cawat atau celana pendek. Ada pula yang memakai kain pendek sampai lutut atau kain panjang hingga mata kaki.

Kaum pria, digambarkan memakai perhiasan seperti gelang, kalung dan anting-anting, ditambah ikat pinggang. Rambutnya disanggul dan diberi hiasan seperti bunga-bunga.

Pakaian lengkap biasanya kain panjang dilengkapi ikat pinggang berhiasakan permata. Ikat dada, selempang kasta atau upavita. Perhiasannya ramai, seperti gelang, kalung, anting-anting, kelat bahu, dan gelang kaki. Hiasan kepalanya berupa mahkota yang tinggi berhias permata.

Secarik Kain Kemben Penanda Strata Sosial

Berdasarkan gambaran relief, Inda Citraninda Noerhadi melihat masyarakat Jawa biasanya tak memakai perhiasan. Mereka yang berkedudukan tinggi secara sosial seperti bangsawan saja lah yang mampu memakai beragam perhiasan, seperti mangkota, anting, kelat bahu, kalung, gelang, gelang kaki, dan sebagainya.

“Pada masyarakat berstatus rendah pakaian fungsinya menutupi dan melindungi, sedangkan untuk yang berstatus tinggi berfungsi menghias tubuh,” tulisnya dalam “Busana Jawa Kuna”.

Berbeda pula dengan busana yang digunakan oleh kaum brahmana, Inda melihat para pendeta yang digambarkan berjubah yang bahu kanannya terbuka. Dalam prasasti para pendeta diberi pakaian khusus yang disebut sinhel.

Hal ini juga diperkuat dalam catatan Sejarah Dinasti Liang dari abad ke-6 M, yang mengungkapkan, bahwa tatanan masyarakat di Jawa, baik pria maupun wanita tak ada yang mengenakan penutup dada.

Namun, busana masyarakat Jawa dikatakan dalam catatan itu hanya mengenakan sarung katun untuk menutupi bagian bawah tubuh, dan bahkan Rambutnya dibiarkan tergerai.

Sementara dikatakan, bahwa kalangan bangsawan dan raja mengenakan kain bergambar bunga yang tipis (selendang) untuk menutupi bagian atas tubuh. Mereka pun mengenakan ikat pinggang emas dan anting-anting emas.

“Gadis-gadis muda menutupi tubuh mereka dengan kain katun dan mengenakan ikat pinggang sulam,” ungkap catatan yang diterjemahkan W.P. Groeneveltdt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa itu.

Tak cuma dari cara berpakaian, jenis kain pun menunjukkan identitas sosial. Sejarawan dan juga merupakan Dosen di Universitas UI, Dr. Supratikno Rahardjo, M.Hum mengatakan, dalam Peradaban Jawa mengungkapkan (berdasarkan data prasasti) pakaian laki-laki biasanya disebut wdihan. Sedangkan pakaian untuk perempuan disebut kain atau ken.

“Saat upacara sima, di awal rangkaian acara pimpinan desa, yang mendapat anugerah sima dari raja, membagikan harta kekayaannya kepada anggota masyarakat yang berasal dari berbagai lapisan sosial, salah satunya pakaian,” ungkapnya.

Supratikno menyebutkan, beberapa jenis kain yang dikenal dalam sumber-sumber Jawa Kuno. Kain yang masuk dalam jenis wdihan adalah:

Ganjar Haju Patra Sisi, Ganjar Patra Sisi, Ganjar Haji, Ganjar Patra, Jaro Haji, Jaro, Bwat Kling Putih, Bwat Pinilai, Pinilai, Bwat lwitan, Kalyaga, Pilih Angsit, Rangga, Tapis, Siwakidang, Bira/Wira, Jaga, Hamawaru, Takurang, Alapnya, Sularikuning, Ragi, Pangalih, Ambay-ambay, Lunggar, Bwat waitan, Cadar, Lwir Mayang, Putih, Raja Yoga, Pamodana, Ron Paribu, Suswan, Prana, Sulasih, Tadahan, Syami Himi-himi.

Sementara, yang termasuk ken/kain adalah:

Jaro, Kalagya, Pinilai, Bwat Wetan, Bwat Lor, Pangkat, Bwat Ingulu, Kalangpakan, Atmaraksa. Kaki, Putih, Rangga, dan Kalamwetan.

 

Puteri Keraton, Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani dipanggil Gusti Nurul dan Kolonel Surjo Sularso. (Foto: Kompasiana)

Menurut Inda, kain tersebut diberikan kepada seseorang sesuai status sosialnya. Dalam Prasasti Rukam 829 saka (907 M) disebutkan kain jenis Ganjar Patra diberikan kepada Rakaryan mapatih i hino, gelar untuk putra sulung raja. Sementara dalam Prasasti Tunahan 794 saka (872 M) ganjar patra diberikan kepada Sri Maharaja.

Baca Juga:   Kemenag RI Merespon Kebijakan Arab Saudi Mengenai Pembatalan Visa Umrah

Pilih Maging dalam Prasasti Sangsang (829 saka) juga diberikan kepada Sri Maharaja. Sementara dalam Prasasti Lintakan (841 saka) kain yang sama diberikan kepada Rakryan i hino.

“Di dalam Prasasti Poh (827 saka) wdihan kalyaga diberikan kepada rakryan mapatih i hino, halu, sirikan, wka, sang pamgat tiruan,” ungkap Inda.

Di dalam Prasasti Mulak 800 saka (878 M), telah disebutkan kain jenis Wdihan Rangga diberikan kepada Makudur. Dalam Prasasti Humanding 797 saka (875 M) Wdihan Angsit diberikan kepada Samgat Wadihati. Wdihan Bira dalam Prasasti Kwak I (801 saka) diberikan kepada Pejabat Halaran,Pangkur, Tawan, Tirip, dan sebagainya.

Dalam Prasasti Gandhakuti (1042 M) pun turut disebutkan, bahwa penerima hak istimewa diperbolehkan memakai apa saja yang biasa dipakai di dalam nagara.

Mereka diperbolehkan memakai pakaian pola Ringring Bananten yang mungkin artinya kain halus, Patarana Benanten, kain berwarna emas, pola Patah, Ajon berpola belalang, berpola kembang, warna kuning, bunga teratai, berpola biji, kain awali, dulang pangdarahan, dodot dengan motif bunga teratai hijau, sadangan warna kunyit, kain Nawagraha, dan Pasilih Galuh.

“Contoh dalam kebudayaan Jawa (hingga kini) ternyata terdapat aturan menggunakan pakaian yang berkaitan dengan status sosial … Pada penggunaan kain batik, ada motif yang merupakan pantangan.” kata Inda.

Aturan Kemben Berlaku Hingga Kini

Sedari dulu hingga masa kini, Makam raja-raja Mataram yang berada di Kotagede, Yogyakarta maupun di Imogiri, Bantul dianggap keramat dan suci. Kedua tempat itu pun tak pernah sepi dari peziarah.

Para peziarah maupun wisatawan yang hendak menyekar ke makam raja-raja tersebut, perlu mengikuti berbagai peraturan.

Menurut Mas Lurah Endri Wisastro menjelaskan, bahwa para peziarah yang datang ke makam raja tak bisa berperilaku sesuka hati. Ada sejumlah tata krama dalam urusan berbusana yang diatur dengan ketat.

Di depan kantor sekretariat Makam Kotagede, Yogyakarta, terpampang dengan jelas sebuah papan tulis hitam yang bertuliskan tata tertib berziarah dengan menggunakan bahasa Jawa. Ada satu papan lagi yang dipajang sekitar 10 meter di depan pintu makam yang memuat tulisan yang sama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Kru dan pemain film Sultan Agung dengan sutradara Hanung Brahmantyo berfoto bersama usai ziarah ke Makam Sultan Agung di Makam Raja-Raja Imogiri, pada Rabu, 15 November 2017. (Foto: Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)

Peziarah perempuan harus mengenakan kain jarit sebatas dada atau kemben sehingga terbuka di bagian bahu. Mereka juga tak boleh berkerudung. Mas Lurah Endri Wisastro mengatakan, aturan tersebut dinilai lebih ringan ketimbang aturan zaman dulu.

“Kalau dulu rambutnya harus pakai konde,” kata dia.

Namun, peraturan ini tak berlaku bagi anak-anak raja, baik yang orang tuanya masih bertahta maupun yang sudah meninggal. Untuk putri raja dibolehkan memakai kebaya. Adapun putra raja Kasunanan Surakarta mengenakan baju beskap dan baju surjan untuk keluarga Kasultanan Yogyakarta.

“Kalau derajatnya cucu raja ke bawah seterusnya berlaku seperti peziarah umum lainnya. Pakai kemben dan peranakan,” kata Mas Lurah Endri Wisastro.

Sementara peziarah laki-laki harus memakai kain jarit dan atasan berupa baju peranakan. Kedua pakaian yang dikenakan peziarah perempuan dan laki-laki itu merupakan pakaian abdi dalem.

Tak hanya peraturan adat di makam para raja saja Mataram yang berada di Kotagede, Yogyakarta maupun di Imogiri, Bantul saja yang masih melestarikan adat budayanya. Keberadaan kemben di daerah-daerah lain pun masih sering digunakan untuk pakaian sehari-hari ataupun pada perayaan adat upacara.

Kemben Cikal Bakal Busana Tradisional

Tak hanya suku Jawa, Kemben juga merupakan pakaian adat dari berbagai suku di Nusantara. Berbagai jenis kain kemben dari berbagai daerah dapat dilihat di Museum Tekstil Jakarta.

Biasanya, kemben digunakan sebagai daleman dari suatu baju resmi. Contohnya, Jenis Kain kemben yang dapat dilihat di Museum Tekstil Jakarta, berasal dari daerah di ujung Pulau Jawa yaitu Banten.

Kain Kemben tradisional dari daerah Banten, sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat Banten dalam. Contohnya, para suku Baduy dalam, luar maupun dangka.

Kain kemben Banten banyak terbuat dari macam-macam kain, tetapi yang diamati adalah dari katun. Memiliki motif ragam hias garis-garis bersilangan.

Tiga Penari Bali (1929). (Foto: Tropenmuseum)

Di Bali, kain kemben sudah menjadi tradisi bagi para wanitanya. Mereka menggunakannya hampir setiap hari sampai ke acara-acara besar atau peringatan agama. Di jogja biasanya abdi dalem keraton (pembantu keraton) menggunakan dodot nama lain dari kemben di daerah tersebut.

Kain kemben, sabuk, saput dan anteng, serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar, saput dan kemben.

Klasifikasi Kain Kemben 

Kemben ini bentuknya panjang dengan lebar maksimal sepertiga dari panjang kemben tersebut. Pada saat sekarang ini pun, kemben masih sering di pakai untuk kaum-kaum wanita untuk membentuk postur tubuh.

Baca Juga:   Obat Anti COVID-19 Diburu Warga, Apa Itu Avigan dan Klorokuin?

Banyak pakaian adat dari beberapa daerah yang menyertai kemben di dalam pakaian tersebut. Kain Kemben, secara fungsi yang artinya adalah kain penutup bagian dada.

Seperti yang sering ditemui, bila seorang wanita nampak begitu anggun jika memakai kebaya dengan membentuk tubuh. Pembentukan tubuh tersebut dengan tidak sengaja di bentuk oleh kain kemben yang di pakainya.

Berbagai macam kain tradisional terdapat di Museum Tekstil Jakarta, dan kain kemben adalah salah satunya. Kain tradisional yang masih eksis dipakai hingga kini.

Kain kemben saat ini, ada yang terbuat dari kain dan adapula yang terbuat dari bahan karet atau kaos. Motif untuk kain kemben sendiri, biasanya dibuat dengan motif-motif sederhana, jika ada permintaan dari pemesan, kemben dapat bermotif sesuai keinginan.

Namun pada zaman modern, eksistensi kemben telah banyak berkembang, contohnya kemben yang dibuat berdasarkan bahan karet atau kaos. Fungsinya pun tetap sama untuk penyangga payudara, sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga.

Namun, ‘Kemben’ seperti itu sedikit mengurangi estetika dari budaya atau seni yang ada di dalamnya. Karena pada jaman dulu, biasanya kain kemben tradisional dibuat dari karya tenunan suku tertentu.

Pada masa lalu, bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat, termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada.

Seni tari tradisional Jawa. (Foto: Net)

Fungsi lain dari kemben sebagai pengikat jarik (kain panjang) agar tidak melorot (berfungsi seperti stagen), atau berfungsi seperti ikat pinggang. Ukuran kemben adalah lebar 50 cm panjang 250 cm.

Berdasarkan corak hiasannya, kemben mempunyai 3 sebutan atau nama, yaitu sindangan, blumbangan, dan byur.

  • Sindangan adalah kemben dengan corak motif hias berpola wajik di tengahnya.
  • Blumbangan adalah kemben dengan bentuk hiasan tengahan empat persegi.
  • Byur adalah kemben dengan corak hiasan menyeluruh di badan kain.

Adanya pembuatan kain kemben ini dari hasil tenun yang dibuat dari benang katun. Benang katun yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kain katun yang dijadikan kemben. Pada jaman dahulu masyarakat Banten dalam menggunakan bahan-bahan asli pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan-bahan tenun.

Bahan baku untuk menenun kemben itu antara lain :

  • Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang.
  • Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang.
  • Akar serai wangi untuk pengawet benang.
  • Daun sirih untuk membuat warna kulit tidak luntur.
  • Pewarna alami lainnya untuk membuat warna pada kemben

Kini seolah dunia terbalik, kebiasaan lalu wanita Nusantara tak memakai penutup dada,  namun kini banyak dari wanita modern, terutama di budaya barat gencar menggaungkan Hari tanpa Kutang Sedunia (No Bra Day Celebration) yang jatuh setiap tanggal 13 Oktober.

Menurut para aktivis wanita di Barat, mereka meyakini apa yang dilakukan oleh mereka bukan tanpa alasan. Peringatan tersebut dilakukan dengan dalih untuk mempromosikan kesadaran akan gejala kanker payudara dan untuk mendorong kesetaraan gender.

Mereka sengaja mendorong wanita untuk Selfie tanpa mengenakan bra dengan hastag #nobraday. Beberapa wanita pengagung konsep No Bra Day sebagian besar mengatakan alasannya sebagai pernyataan politik, kesehatan dan sebagian wanita lainnya mengatakan atas dasar kenyamanan.

Walaupun begitu, banyak dari wanita di Indonesia modern kini tak turut ikut serta dalam memperingati No Bra Day, karena memang sedari dulu budaya ketimuran sudah melekat dan peringatan tersebut bukanlah bagian dari budaya Nusantara.

Hal yang uniknya pun, kini patung di depan Putri Duyung Resort Ancol ditutupi kain berwarna emas atau yang dikenal sebagai kemben. Padahal, sebelumnya bagian tersebut tak ditutupi kain selayaknya patung pada umumnya.

Menurut Corporate Communication Manager Taman Impian Jaya Ancol, Rika Lestari menyebut, penilaian terhadap patung yang dipakaikan kemben tergantung persepsi dan pikiran masing-masing orang.

Taman Impian Jaya Ancol tutup patung putri duyung dengan menggunakan kain kemben demi menjunjung tinggi budaya ketimuran. (Foto: Keepo.me)

Memang tak bisa dipungkiri, bahwa pada masa lalu secarik kemben bagi wanita di bumi Nusantara sangatlah berarti. Selain fungsinya, secarik Kemben mempunyai peranan penting dalam peradaban bangsa Nusanatara.

Pada masa animisme, dinamisme dan masuknya sebuah kehidupan beragama pun, keberadaan kain Kemben sebagai penutup dada bagi para wanita bumi Nusantara sudah berlaku.

Sayangnya, banyak oknum dengan embel-embel “seni” yang sekarang memanfaatkan kearifan budaya leluhur seperti kemben, dengan mengaitkan kepada hal-hal yang berbau pornografi dan mesum.

Bangsa dan sejarahanya bisa saja terpelintir hanya untuk segelintir uang, tanpa menghargai nilai estetika dimasa peradaban nenek moyangnya. (ell/ras)

Sumber:

  • Tirto.id “Sejarah Kutang Indonesia” oleh Petrik Matanasi
  • Historia “Cara Berpakaian Orang Jawa Kuno” oleh Risa Herdahita Putri
  • “Kain Kemben (Museum Tekstil Jakarta)” oleh Ana Wijayanti
  • Tempo.co “Aturan Nyekar ke Makam Raja, Beda Anak Raja dan Orang Biasa” 
  • Kompas.com “Patung Putri Duyung Kini Pakai Kemben, Manajemen Ancol Sebut Penyesuaian Budaya”  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here