Mengenai Fatwa MUI, Uu Ruzhanul Ulum: Tak Perlu Kasus Virus Corona Dipandang Berlebihan

  • Whatsapp
Wagub Jabar, Uu Ruzhanul Ulum. (Foto: Suaramerdeka.com)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, BANDUNG – Pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa pemerintah yang berwenang melarang kegiatan ibadah berjamaah di Masjid atau Mushala guna mencegah penyebaran virus Corona masih diperdebatkan, termasuk oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum.

Sebelumnya, Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin Abdul Fattah mengatakan, bahwa MUI hanya menyampaikan fatwa berkenaan dengan pelaksanaan ibadah disaat masa wabah COVID-19 tengah menghantui Indonesia.

Read More

Tetapi, dirinya menyatakan, bahwa pemerintah lah yang memiliki kewenangan untuk mengatur pelarangan ibadah berjamaah di daerah tertentu.

“Saya kira fatwa itu harus menjadi pedoman pemerintah di sini, dalam rangka pemerintah mengambil satu tindakan bahkan menetapkan mana-mana daerah atau kawasan yang sudah masa gawat darurat tingkat penyebaran virus Corona ini,” katanya dalam Konferensi pers di Kantor MUI Jakarta, yang dikutip dari Antara, pada selasa, 17 Maret 2020.

Walaupun begitu, dirinya mengatakan, bahwa di daerah tempat penularan COVID-19 sudah susah dikendalikan. Kegiatan majelis-majelis taklim, salat berjamaah, dan salat Jumat pun sudah dinyatakan dilarang.

Menurut Fatwa MUI, jemaah yang sudah terjangkit virus Corona wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tak menularkan virus mematikan tersebut kepada orang lain. Diperuntukan jemaah yang sudah terinfeksi COVID-19, salat Jumat bisa digantikan dengan salat Dzuhur di kediamannya, karena salat Jumat merupakan aktivitas yang bersinggungan dan melibatkan banyak jemaah lainnya. Sehingga ditakutkan, peluang virus dapat menular lebih cepat.

Dalam hal jemaah tersebut berada di kawasan berpotensi penularan rendah yang berdasarkan ketepatan pihak berwenang, maka menurut fatwa MUI dia tetap wajib menjalankan ibadah sebagaimana biasa dan menjaga diri agar terhindar dari penularan virus Corona.

Namun, fatwa yang dicetuskan oleh MUI tersebut dibantahkan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum. Uu mengatakan, tak perlu kasus merebaknya virus Corona ini dipandang berlebihan.

Uu Ruzhanul Ulum, yang juga Mustasyar PW Dewan Masjid Indonesia Jabar berharap, masyarakat tak mengabaikan ibadah di tengah maraknya wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

“Jangan sampai kekhawatiran terhadap hal-hal yang belum pasti kewajiban agama jadi diabaikan, Nah apalagi sebentar lagi memasuki bulan Ramadan,” ucap Kang Uu (panggilan akrab Wagub Jabar), di Bandung, pada Selasa, 17 Maret 2020.

Dirinya mengatakan, kemungkinan penularan virus mematikan ini di masjid ketika salat Jumat tergolong kecil. Menurutnya, sebelum melaksanakan salat, para jemaah selalu diwajibkan berwudhu yang dapat menghilangkan potensi virus di area tubuh.

“Saya kira tidak usah berlebihan, kan, orang masuk masjid mau salat dan sebelumnya berwudhu dulu, dia kan sudah bersih dan ada doanya, Islam itu sudah sempurna dalam segala hal,” ungkapnya.

Selain itu, Kang Uu menerangkan, bahwa shalat Jumat wajib dilaksanakan di masjid dan tak bisa digantikan dengan salat Dzuhur, kecuali bagi musafir dan ada mawani atau dengan alasan yang diperbolehkan.

“Masa masyarakat tidak akan Jumatan, memang bisa digantikan dengan salat Dzuhur, tapi kan harus jelas alasannya seperti musafir atau ada mawani alias ada alasan yang diperbolehkan,” kata Kang Uu.

Dirinya menceritakan, bahwa pada zaman Rasulullah, shalat berjamaah di masjid tetap dilakukan, sekalipun dalam kondisi perang atau saat ada wabah penyakit. Menurutnya, dengan adanya musibah virus Corona ini, masyarakat justru harus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta meminta perlindungan kepada Allah SWT.

“Dulu juga tidak pernah mengabaikan, justru dengan adanya musibah ini kita harus bersabar, berikhtiar, berdoa untuk mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, makanya Kang Emil (Gubernur Ridwan Kamil) kan ada program subuh berjamaah,” katanya.

Tak hanya itu, Kang Uu pun meminta masyarakat untuk tidak panik membeli secara berlebihan alat pelindung diri seperti masker, cairan pembersih tangan, dan alat pengukur panas. Yang paling penting, katanya, adalah masyarakat harus disiplin melakukan social distancing atau pembatasan interaksi yang sangat efektif mencegah penyebaran COVID-19.

“Tak usah panik dan dipaksakan membeli alat-alat itu, cuci tangan dengan air biasa juga bisa, kalau masker kan untuk orang yang sakit atau berada di sekitarnya, sementara untuk thermal gun kan bisa diganti juga dengan termometer saya kira semua fungsinya sama. Justru yang paling penting adalah taat melakukan social distancing,” kata kang Uu.

Mengenai stok pangan, mantan Bupati Tasikmalaya ini menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat aman hingga bulan Ramadan kedepan sekalipun adanya virus Corona.

“Stok pangan di Jawa Barat sekalipun ada peristiwa ini aman. Kasihan masyarakat kan sudah khawatir karena Corona ditambah sembako susah jangan sampai itu terjadi, jangan khawatir untuk pangan kita aman, termasuk menghadapi Ramadan kita juga sudah antisipasi,” ucapnya. (Antara/fan/ell)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *