Heboh! Asteroid 2016 HP6 Bakal Hantam Bumi Saat Ramadan, Hoaks atau Fakta?

Ilustrasi meteorit hantam bumi. (Foto: Suara.com)

NOTIF.ID, JAKARTA – Ramai diperdebatkan di media sosial, mengenai isu ancaman meteor berukuran besar yang akan menghantam bumi saat Ramadan nanti.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan mengenai isu ancaman asteroid yang mendekati bumi tersebut. Dikatakan LAPAN, peristiwa tersebut akan berlangsung pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 2020 ini.

Benda antariksa yang dimaksud adalah asteroid 2016 HP6. Asteroid ini memiliki kecepatan relatif 5,72 kilometer per detik ketika mendekati Bumi dan dikategorikan asteroid Apollo.

“Asteroid Apollo adalah asteroid yang memiliki sumbu setengah panjang lebih besar dibandingkan dengan orbit Bumi (> 1 Satuan Astronomi, SA) tetapi jarak perhelionnya lebih kecil dibandingkan aphelion Bumi (< 1,017 SA),” kata Lapan yang dikutip dari situs reminya, pada Rabu, 11 Maret 2020.

Dikutip dari laporan Liputan6, sebelumnya, National Aeronautics and Space Administration (NASA) juga telah mengunggah di media sosial dan pesan singkat yang beredar terkait isu berjudul “NASA: 2019 Meteor Raksasa Akan Hantam Bumi” artikel ini telah dimuat Republika pada 11 Januari 2011.

Dalam artikel tersebut dijelaskan, bahwa NASA memprediksi akan adanya benturan antara meteor dengan atmosfir bumi pada tahun 2019 yang menjadi ancaman serius bagi planet bumi.

Disebutkan juga bahwa benturan itu akan mengakibatkan suhu bumi memanas, kebakaran hutan dan terbentuknya awan debu tebal yang membuat bumi gelap gulita selama satu bulan.

Di media sosial, kutipan berita ini kerap disangkut-pautkan dengan datangnya akhir zaman atau kiamat. Bahkan, ada beberapa yang menyebarkan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2019.

Pernyataan itu tentu membuat masyarakat dunia resah dan ingin mencari tahu kebenaran tentang isu tersebut. Namun, setelah beredarnya kabar yang membuat panik tersebut, nyatanya benturan asteroid tak pernah terjadi di bumi, dan tak tepat sesuai dengan apa yang diprediksi oleh para pakar astronomi.

View this post on Instagram

Beberapa pekan lagi, kita akan menyongsong Bulan Ramadan 1441 H yang diprediksi akan jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020. Berdasarkan data yang diperoleh dari Center of Near Earth Object Studies (CNEOS) NASA (https://cneos.jpl.nasa.gov), Asteroid 2016 HP6 akan mendekati Bumi pada hari Kamis, 7 Mei 2020 pukul 21:48 Universal Time (Jumat, 8 Mei 2020 pukul 4.48 Waktu Indonesia Barat) pada jarak 4,33 jb (jarak bulan) atau 1,66 juta kilometer. Asteroid ini memiliki kecpatan relatif 5,72 kilometer per detik ketika mendekati Bumi dan dikategorikan sebagai asteroid Apollo. ● Asteroid Apollo adalah asteroid yang memiliki sumbu setengah panjang lebih besar dibandingkan dengan orbit Bumi (> 1 Satuan Astronomi, SA) tetapi jarak perhelionnya lebih kecil dibandingkan aphelion Bumi (< 1,017 SA). Beberapa asteorid Apollo bisa menjadi ancaman bagi penduduk di Bumi apabila berada pada jarak yang sangat dekat dengan Bumi, seperti Meteor Chelyabinsk yang memasuki atmosfer Bumi dan meledak di langit kota Chelyabinsk, Rusia pada 15 Februari 2013 silam dengan ukuran 17 meter. ● Asteroid 2016 HP6 memiliki sumbu setengah panjang sebesar 1,579 SA atau 236 juta kilometer dengan kelonjongan orbit sebesar 0,357. Jarak terdekat asteroid ini dengan Matahari sebesar 1,014 SA dengan kemiringan orbit 3,92° terhadap ekliptika, yang mana sedikit lebih miring dibandingkan orbit Venus (inklinasi 3,39°). Periode orbit asteroid ini selama 724,5 hari atau 1,98 tahun yang mana sedikit lebih lama dibandingkan periode orbit Mars yakni 687 hari atau 1,88 tahun. ● Asteroid 2016 HP6 diperkirakan berukuran antara 23 hingga 52 meter dengan magnitudo absolut +25,3 jika diamati pada jarak 1 SA dari Matahari dan pengamat. Asteroid ini memiliki jarak perpotongan orbit minimum (minimum orbit intersection distance, MOID) sebesar 0,0053817 SA atau 805 ribu kilometer terhadap orbit Bumi, yang mana jauh lebih kecil dari 0,05 SA atau 7,5 juta kilometer namun magnitudo absolutnya lebih besar daripada +22. Sehingga objek ini tidak dapat dikategorikan sebagai objek berpotensi bahaya (Potentially Hazardous Object, PHO). ● Lanjutan di bawah ⬇️

A post shared by LAPAN (@lapan_ri) on

Kini, di tahun 2020, berdasarkan data yang diperoleh dari Center of Near Earth Object Studies (CNEOS) NASA, asteroid 2016 HP6 akan mendekati Bumi pukul 21:48 Universal Time, pada Kamis, 7 Mei 2020 atau Jumat, pukul 4.48 WIB untuk WIB, 8 Mei 2020.

Disebutkan, asteroid 2016 HP6 tersebut akan mendekati Bumi dengan jarak 4,33 jarak bulan (jb) atau 1,66 juta kilometer.

Meski jaraknya terhitung jauh, dikatakan NASA kembali, bahwa asteroid Apollo beberapa di antaranya bisa menjadi ancaman bagi penduduk Bumi dengan catatan jaraknya sangat dekat.

Walaupun begitu, seperti kejadian meteor Chelyabinsk, masyarakat dunia dikagetkan dengan kejadian meteor Chelyabinsk yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di langit kota Chelyabinsk, Rusia, pada 15 Februari 2013 silam.

Asteroid ini sangat berbahaya apabila berada pada jarak yang dekat dengan Bumi, salah satunya seperti Meteor Chelyabinsk.

Baca Juga: Asteroid 2002 PZ39 Bakal Hantam Bumi? AS: Bisa Dibelokkan Orbitnya

Asteroid 2016 HP6, dikatakan NASA memiliki sumbu setengah panjang sebesar 1,579 SA atau 236 juta kilometer dengan kelonjongan orbit sebesar 0,357.

Jarak terdekat asteroid ini dengan Matahari sebesar 1,014 SA dengan kemiringan orbit 3,92° terhadap ekliptika, yang mana sedikit lebih miring dibandingkan orbit Venus (inklinasi 3,39°).

Periode orbit asteroid selama 724,5 hari atau 1,98 tahun yang mana sedikit lebih lama dibandingkan periode orbit Mars yakni 687 hari atau 1,88 tahun.

Lapan juga mengatakan, bahwa asteroid 2016 HP6 diperkirakan berukuran antara 23 hingga 52 meter dengan magnitudo absolut +25,3 jika diamati pada jarak 1 SA dari Matahari dan pengamat.

Asteroid ini memiliki jarak perpotongan orbit minimum (minimum orbit intersection distance, MOID) sebesar 0,0053817 SA atau 805 ribu kilometer terhadap orbit Bumi, yang mana jauh lebih kecil dari 0,05 SA atau 7,5 juta kilometer namun magnitudo absolutnya lebih besar daripada +22.

Dikatakan juga, bahwa objek ini tidak dapat dikategorikan sebagai objek berpotensi bahaya (Potentially Hazardous Object, PHO).

Dilansir dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, lintasan orbit asteroid dapat berubah dikarenakan tarikan gravitasi planet.

Para pakar Astronomi percaya, bahwa asteroid sesatan (stray asteroid) maupun pecahan dari tabrakan asteroid lebih awal telah menabrak Bumi di masa silam, yang mana berperan penting dalam evolusi planet Bumi.

Sedangkan menurut Planetary Defense Coordination Office NASA, jatuhnya asteroid adalah proses alami yang bakalan terjadi terus menerus.

Setiap harinya, material 80 hingga 100 ton, asteroid jatuh ke Bumi dari luar angkasa dalam bentuk debu dan meteorit kecil (pecahan asteroid yang hancur di atmosfer Bumi).

Setidaknya dalam 20 tahun terakhir, sensor radar pemerintah Amerika Serikat telah mendeteksi hampir 600 asteroid berukuran sangat kecil (beberapa meter saja) yang memasuki atmosfer Bumi sehingga menciptakan bolide atau fireball. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here