Rihla Ibnu Battuta, Memoar Sang Musafir Susur Bumi “Luban Jawi”

  • Whatsapp
Ilustrasi gambar peziarah Arab, iluminasi manuskrip Maqamat oleh Al-Hariri 1054-1122. (Foto: Wikipedia)
Perkiraan waktu baca: 16 menit

NOTIF.ID, HISTORI – Abu ‘Abdallah Muhammad Ibn’ Abdallah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati, atau yang dikenal dengan nama Ibnu Battuta. Ia lahir pada 25 Februari 1304 dan tumbuh besar dalam keluarga keturunan suku Berber yang terkenal dengan nama suku Lawata.

Ibnu Batutta, seorang pengembara muslim dari Negeri Matahari Terbenam (Maroko) yang disebut-sebut merupakan pelopor penjelajah abad 14 M.

Read More

Dikatakan para Sejarawan, kisah perjalanannya tak sebanding dengan sejumlah penjelajah Eropa, seperti Christopher Columbus, Vasco de Gama, dan Magellan yang mulai penjelajahannya setelah masa Ibnu Battuta.

Bahkan, Sejarawan Barat, George Sarton mencatat, jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Battuta melebihi pencapaian Marcopolo. Maka tidaklah heran, banyak ahli sejarah mengagumi keteguhan seorang Ibnu Battuta yang mampu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan sepanjang 120.000 kilometer dan melintasi sekitar 44 negara selama 30 tahun petualangannya.

Rihla perjalanannya, telah dituangkan dalam karya sastra yang abadi. “Tuhfat al-Nuzzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ’Aja’ib al-Asfar” (Persembahan untuk Mereka yang Merenungkan Keajaiban Kota serta Keajaiban Perjalanan yang Mengagumkan) merupakan Judul dari rihla sang musafir.

Kisah perjalanannya, ditulis dan disusun oleh Ibnu Juzay, sarjana sastra Andalusia yang merupakan juru tulis Sultan Maroko, yakni Abu Inan Faris (1329 – 10 Januari 1358) atau Sultan Abu ‘Inan.

Selama dua tahun, Ibnu Battuta mendiktekan kisahnya kepada Juzayy yang menjadikan sebuah karya yang sangat mengagumkan. Karya ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan di Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Buku itu disusun menjadi sebuah perjalanan Dunia yang mengagumkan dengan mengaitkan berbagai peristiwa, waktu pengembaraan serta catatan-catatan penting yang berisi berita dan peristiwa yang dialami Ibnu Battuta selama masa penjelajahannya.

Rute perjalanan Ibnu Battuta. (Foto: History).

Ketika Ibnu Battuta tumbuh, kota Tangier (kota bagian utara di Maroko) bukanlah merupakan pusat kegiatan pendidikan di Afrika Utara. kota ini belum punya lembaga pengajaran yang baru didirikan oleh penguasa baru, yakni Dinasti Marinid.

Walaupun begitu, pada masa abad ke 14 kota Tangier mempunyai keluarga-keluarga cendekiawan, pejabat agama di setiap masjid dan lembaga agama lainnya, pejabat administrasi, penasihat hukum dan hakim, serta guru-guru besar.

“Keluarganya berkedudukan terhormat sebagai anggota elite para cendikiawan kota.” ungkap sejarawan dari San Diego State University, Ross E. Dunn.

Menurut Dunn, yang juga merupakan penulis buku “The Adventures of Ibn Battuta: A Muslim Traveler of the Fourteenth Century”. Ibnu Battuta dan beberapa keluarganya banyak mendapatkan pengajaran mengenai ilmu hukum.

“Selama tahun-tahun masa remajanya, ia memperoleh nilai-nilai dan kepekaan seorang lelaki yang berpendidikan,” tulis Dunn.

Dalam kesehariannya, Ibnu Battuta menggunakan bahasa Arab. Menginjak usia remaja, dirinya, dikatakan Dunn, mampu bertata krama dalam kehidupan seorang sarjana dan menjadi lelaki beradab yang menjadi penopang budaya kota.

“Pendidikan yang diterima Ibnu Battuta adalah suatu yang berharga bagi seorang anggota keluarga ahli hukum,” ungkapnya

Awal Kisah Perjalanan Sang Musafir

Kisahnya ditulisakan dalam memoarnya yang berawal dari keinginan besar seorang Ibnu Battuta muda untuk pergi ke Tanah Suci. Pada usia 21 tahun, dengan bermodalkan nyali dan perbekalan seadanya, dirinya meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berkelana meninggalkan rumah dimana ia tumbuh dan belajar.

Bak Burung yang lepas dari sangkarnya, Ibnu Battuta melangkahkan kakinya pertama kali dari tanah kelahirannya menuju tanah suci pada 2 Rajab 725 Hijriah atau 14 Juni 1325.

“Tujuanku untuk berziarah ke Kabah (Makkah al mukarramah), dan untuk mengunjungi makam Nabi,” ungkap Ibnu Battuta dalam Rihla.

Ia bersama jamaah Tanger lainnya menempuh perjalanan keringnya hawa laut Mediterania ke arah timur hingga daratan berpasir wilayah Afrika Utara dan melewati lembah sungai dan daratan-daratan tandus yang diapit serangkaian pegunungan.

Bersama pedagang Ifriqiya (kini, Tunisia), Ibnu Battuta tiba di pelabuhan Aljir, Aljazair. Ini merupakan pemandangan Laut Tengah yang pertama kali baginya.

Ilustrasi perjalanan Haji (Foto: Cassell’s Illustrated Universal History)

Menurut Dunn, dalam Petualangan seorang Ibnu Battuta, tak lebih merupakan perjalanan seorang musafir Muslim dari abad ke 14 yang kesepian. Hasratnya membawa ia bergabung dengan siapa saja yang dapat menerimanya sebagai teman.

“Aku sudah dipengaruhi keinginan yang mendadak menguasai batin dan sebuah hasrat yang sudah lama berkembang dalam dada untuk mengunjungi tempat-tempat Suci yang semarak itu,” kata Ibnu Battuta.

Berbekal Pengalaman berjumpa dengan banyak orang dan ilmu yang ia pelajari dari tanah kelahirannya, membuat kualitas silaturahmi Ibnu Battuta mudah mendapatkan banyak kawan dalam petualangannya.

Dalam perjalanannya ke Makkah Al Mukaramah, dirinya selalu mengajak orang-orang bermudzakarah (saling mengingatkan dalam kebenaran)serta berbagi ilmu dan pengalaman.

Ia sering mampir di beberapa tempat, salah satunya untuk menunggu musim haji. Hampir satu setengah tahun kemudian, ia dengan hati yang bersuka-cita memasuki lembah sempit Makkah. Ia segera menuju Rumah Suci yang tak terlukiskan itu.

Setelah tujuan ibadah Haji tercapai, Ibnu Battuta pergi ke Baghdad bersama peziarah asal Irak. Tujuan pengembaraannya bukan lagi Religi, namun sebuah petualangan yang akan membawanya memulai penjelajahan Dunia.

“Dampak apapun yang menggetarkan ibadah hajinya yang pertama mungkin telah melandanya … Ia bukan lagi anak muda yang berdiri putus asa di pusat Kota Tunis tanpa tujuan dan tanpa orang untuk diajak bicara.” catat Dunn.

Menurut sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Abdullah, Ibnu Battuta merupakan seorang ulama yang terpelajar. Dalam pengelanaannya, ia tak ubahnya seperti seorang ulama yang berkelana sambil menyebarkan ilmunya.

“Di berbagai tempat, ia tampil sebagai penasihat atau kepercayaan sang penguasa. Tak jarang pula, ia menjadi pejabat keagamaan atau utusan seorang penguasa ke penguasa lainnya. Di atas segalanya, ia adalah seorang ulama yang selalu ingin memperdalam ilmunya dari ulama lain,” kata Taufik Abdullah dalam “Secercah Kisah: Ibn Battuta Sang Penjelajah Muslim Tanpa Bandingan” yang disampaikan di Borobudur Writers and Cultural Festival 2018.

Petualangan Ibnu Battuta merentang hampir tiga puluh tahun. Dalam waktu itu, ia telah melintasi kawasan Dunia Timur, mengunjungi daerah-daerah yang luasnya sama dengan luas 44 negara pada zaman modern.

Memoar Ibnu Battuta Pijakan Kaki di “Luban Jawi”

“Setelah berlayar dua puluh lima hari, kami mencapai Pulau al-Jawa. Itu pulau dari mana kemenyan Jawa mendapatkan namanya. Kami melihat pulau itu dari jarak yang jauhnya setengah hari berlayar. Pohonnya banyak. Itu termasuk kelapa, palem, cengkeh, gaharu, papaya, jeruk manis, dan kapur barus,”

Itulah sepenggal kesaksian Ibnu Battuta, ketika berlabuh di Kerajaan Samudra Pasai di Aceh, dalam tulisannya di Rihla “Tuhfat al-Nuzzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ’Aja’ib al-Asfar”.

Dalam Rihlanya, Ibnu Battuta menyebutkan Pulau Sumatra adalah pulau Jawa. Menurut Dunn, sebutan tersebut merupakan hal yang umum digunakan pada zaman pertengahan. Misalnya, penjelajah Italia, Marco Polo menyebut Sumatra sebagai Jawa kecil.

Sejak abad ke-7 M dalam literatur para Geograf Arab, mengatakan bahwa keberadaan pulau Zabag, yakni pulau Sumatra.

Bangsa Arab juga menyebut, bahwa wilayah yang kemudian menjadi Indonesia ini dengan nama Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab “luban jawi” (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.

Sebelum Ibnu Battuta menyusuri Selat Malaka, dirinya sempat tinggal selama enam tahun di Delhi, India. Lalu, Sultan Muhammad bin Tughlug memerintahkannya melakukan ekspedisi pelayaran ke Tiongkok untuk membalas kunjungan delegasi dari Dinasti Yuan.

Dari perjalanan inilah yang membawanya hingga sampai ke Samudra Pasai pada akhir musim dingin 1345-1346.

Dalam perjalanannya, kapal Ibnu Battuta sempat berlabuh di sebuah tempat yang dia sebut Barah Nagar. Disinyalir, tempat ini merupakan sebuah negara kecil yang diduduki oleh suku etnik Indo-China di sepanjang pantai sebelah barat Myanmar.

Menurut Dunn, Ibnu Battuta berlabuh untuk kedua kalinya di pelabuhan bernama Qaqula, yang dimana dikatakan Dunn merupakan pelabuhan yang terletak di sepanjang Pantai Tenasserim, di sisi sebelah barat Semenanjung Malaka.

Kapal Jung dari dinasti Song yang dilukiskan pada abad ke-13 dengan layar persegi panjang yang khas, kemudi yang dipasang di buritan, dan konstruksi besar berbentuk persegi dari busur ke buritan sampah Cina. (Foto: Wikimedia Commons)

Kapal Jung (sejenis kapal layar) itu kemudian berlayar ke arah selatan, lalu menyusuri sepanjang Pantai Malaka dan lalu masuk melalui mulut selat. Setelahnya, Ibnu Battuta berserta rombongannya sampai berlabuh di pelabuhan Kerajaan Samudra Pasai di Sumatra.

“Sebuah kota pergantian kapal yang terletak di salah satu sungai yang mengalir ke bawah dari pegunungan liar di daerah pedalaman sebelah barat laut,” kata Dunn.

Sejarawan LIPI, Taufik Abdullah pun mengatakan, Ibnu Battuta telah mengenal Sumatra sejak dirinya masih berada di Calicut, India.

Dalam kisahnya ketika akhirnya dia melawat ke Samudra Pasai, dia bercerita bagaimana hilir-mudiknya pedagang dari Sumatra ke kota dagang tersebut.

“Negaranya merupakan negara yang masuk Islam paling awal di wilayah itu sebagaimana para Sejarawan telah sanggup menemukannya,” ungkap Dunn dalam tulisannya.

Sang sultan, menurut catatan Ibnu Battuta, banyak melakukan misi peperangan demi menegakkan keyakinan agama. Sultan juga dikisahkan, senang berdiskusi mengenai keagamaan dengan para ulama.

Ia menceritakan bagaimana Sultan al-Malik al-Zahir (II) yang pada kala itu berambisi memperluas wilayah kekuasaan Islam di bumi Nuswantara.

Menurut Taufik, ada sebuah indikasi bahwa Sultan yang ditemui oleh Ibnu Battuta merupakan keturunan ketiga dari penguasa Muslim yang telah ada beberapa tahun sebelum tahun 1297 M.

Taufik menjelaskan, pada salah satu inskripsi batu nisan di kompleks pemakaman Raja Samudra Pasai, yang dituliskan dalam bahasa Arab telah dicantumkan bahwa pusara tersebut milik Tuan yang Mulia Sultan Malik Az-Zahir, cahaya dunia dan Sinar Agama Muhammad bin Malik al-Shalih yang wafat pada malam Ahad, dua belas bulan Zulhijjah 726.

“Makam Malik al-Zahir ini terdapat di sebelah makam ayahnya, Malikul Saleh, sang pendiri dinasti Samudra Pasai,” kata Taufik.

Hal tersebut ditegaskan pula oleh sumber tertulis lainnya, seperti dalam Hikayat Raja-Raja Samudra Pasai dan Sejarah Melayu. Bukti tersebut juga diperkuat dari kesaksian peziarah asal Italia, yakni Marco Polo yang datang pada 1293, masa ketika kesultanan itu baru dilahirkan.

“Ini menunjukkan secara pasti tentang telah berdirinya sebuah pusat kekuasaan Islam di akhir abad ke-13 M. Jadi ini seusia dengan Kerajaan Majapahit di Jawa bagian timur waktu itu,” ungkap Taufik.

Dalam buku “The Indonesia Reader, History, Culture, Politics,” – editor Tineke Hellwig dan Eric Tagliacozzo – Ibnu Battuta menuliskan kehidupan masyarakat Muslim di utara Sumatera itu dalam catatan hariannya.

Ibnu Battuta melukiskan Samudera Pasai dengan begitu indah. ”Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar nan indah,” ucap sang Musafir kagum.

Dalam catatannya, Ibnu Battuta sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India.

Kekayaan alam Negeri Samudra Pasai, seperti pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu turut dilaporkan juga oleh Ibnu Battuta selama berada di negeri ini.

Ia juga menulis tentang tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia, yang hanya tumbuh di daerah ini (dulu memang terdapat komoditas tumbuhan aromatik yang dihasilkan di daerah Barus).

Gambaran Kerajaan Samudra Pasai. (Foto: wikipedia)

Saat sampai di pelabuhan, masyarakat setempat menyambutnya berserta rombongan dengan ramah.

Masyarakat di sana datang dengan membawa kelapa pisang, mangga, dan ikan, untuk ditukarkan dengan barang lain yang dibawa pedagang yang singgah.

Kedatangan Ibnu Battuta disambut Amir (panglima) Daulasah, Qadi Syarif Amir Sayyir Al-Syirazi, Tajuddin Al-Asbahani dan beberapa ahli fiqh atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345).

Menurut pengamatan Ibnu Battuta, Sultan Mahmud merupakan penganut Mazhab Syafi’i yang giat menyelenggarakan pengajian dan mudzakarah tentang Islam.

Menurut pengakuannya, perwakilan dari panglima kesultanan turut serta menyambut kedatangan rombongannya. Pejabat itu menanyakan maksud kedatangan mereka. Setelah itu, rombongan Ibnu Battuta diizinkan berlabuh di pantai Samudra Pasai.

“Lantas kami menuju ke daratan ke pelabuhan, sebuah kampung besar di pantai dengan sejumlah rumah, yang disebut Sarha,” tulisnya.

Menurut catatannya, perkampungan itu berjarak sekitar empat mil dari Kota Raja. Ibnu Battuta juga mencatat bahwa Sultan Pasai, al-Malik az-Zahir, merupakan Raja yang sangat ramah.

Rombongan itu diterima dengan tangan terbuka. Bahkan, sang Sultan meminjamkan beberapa kudanya untuk digunakan rombongan Ibnu Battuta selama singgah di negeri Samudra Pasai.

“Saya dan teman-teman saya berkuda, dan kami menunggang kuda ke Kota Raja, kota Sumatra, sebuah kota yang besar dan indah dilengkapi dengan dinding kayu dan menara kayu,” ungkapnya.

Dalam catatan tersebut, ia juga dikatakan terkesan dengan Karisma seorang Sultan al-Malik az-Zahir. Selain memiliki pikiran yang terbuka, Sultan juga mencintai ilmu Teologi Islam (ilmu kalam dalam dunia Islam).

Sultan merupakan penganut Islam yang taat dan memerangi segala perompakan. Dikatakannya, Sultan juga merupakan tempat berlindung dan mengadu yang sangat dikasihi oleh kaum non-Muslim.

Selain tegas, Sultan al-Malik juga digambarkan sebagai orang yang rendah hati, dan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya.

”Sultan Mahmud Malik Al-Zahir adalah seorang pemimpin yang sangat mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki,”

“Selesai shalat, sultan dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya,” tulis Ibnu Battuta dalam Rihla.

Ia juga melihat Samudera Pasai saat itu merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara. Menurutnya, penguasa Samudera Pasai itu memiliki ghirah (semangat) belajar yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama.

Dia juga mencatat, pusat studi Islam yang dibangun di lingkungan kerajaan menjadi tempat diskusi antara ulama dan elit kerajaan.

Ibnu Battuta menuturkan, telah bertemu dengan tujuh raja yang memiliki kelebihan yang luar biasa.

Ketujuh raja yang dikagumi Ibnu Battuta, yakni Raja Iraq yang dinilainya berbudi bahasa, Raja Hindustani yang disebutnya sangat ramah, Raja Yaman yang dianggapnya berakhlak mulia, Raja Turki dikaguminya karena gagah perkasa, Raja Romawi yang sangat pemaaf, Raja Melayu Malik Al-Zahir yang dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, serta Raja Turkistan.

Ketika dirinya menuju Istana Sultan, dikatakannya, bahwa ia melihat sejumlah tombak tertancap di kanan-kiri jalan, di dekat gerbang. Hal itu menandakan, siapapun tak boleh lewat.

Siapa saja yang menunggang kuda juga harus turun. Sehingga dia serta rombongannya taat akan peraturan tersebut dan turun dari kuda tunggangan mereka.

Saat tiba di aula Istana, rombongannya disambut oleh salah satu Petinggi Kesultanan yang ramah. Ia disambut dengan prosesi jabat tangan yang hangat.

“Kami duduk bersama dia dan dia menulis surat kepada Sultan untuk menginformasikan kedatangan kami,” ungkapnya.

Setelah dijamu dengan serangkaian acara jamuan makan, petinggi Kesultanan mengajak rombongannya berjalan-jalan di taman berpagar kayu. Di bagian tengah dibangun sebuah rumah kayu dan beralaskan karpet.

Setelah itu, datanglah pejabat kesultanan, amir Daulasa, dengan membawa dua pelayan perempuan dan dua laki-laki.

“Sultan mengatakan kepadamu bahwa persembahan ini sebanding dengan hartanya, tidak seperti Sultan Muhammad (Sultan India),” ucap amir Daulasa.

Setelah itu, Petinggi tersebut meninggalkan mereka dan Ibnu Battuta berseta rombongannya beralih menjadi tanggung jawab amir Daulasa.

Ibnu Battuta sudah kenal dengan amir Daulasa, sebab pernah menghadap Sultan Delhi bersama-sama. Ibnu Battuta pun bertanya, kapan Sultan Pasai bisa menemui rombongannya.

“Ini adat negeri kami bahwa pendatang baru menunggu tiga malam sebelum menghadap ke Sultan, mungkin dia (tamu) sudah pulih dari kelelahan selama dalam perjalanan,” ucap Amir Daulasa menjawab pertanyaan Ibnu Battuta.

Ilustrasi gambar Ibnu Battuta dan Sultan Muhammad Ibtaglib sebelum berangkat ke Tiongkok. (Foto: Historia)

Ia pun akhirnya bertemu dengan Sultan al-Malik az-Zahir pada hari Jumat. Mereka bertemu dan berbincang di sebuah masjid setelah salat Jumat. Sultan memintanya menceritakan kabar Sultan Muhammad di India.

Setelah pertemuan tersebut, Sultan al-Malik pun meninggalkan masjid dengan menunggangi seekor gajah.

“Saat meninggalkan masjid, dia (Sultan) disediakan gajah dan se-deretan kuda. Adat mereka, Sultan menunggang gajah, pengiring dan wakil menunggang kuda,” tulis Ibnu Battuta.

Dalam catatan Rihlanya, Ibnu Battuta berserta rombongannya hanya berlabuh selama dua pekan di Samudra Pasai. Namun, menurut Dunn, ada kemungkinan Ibnu Battuta tinggal lebih lama lagi.

Pasalnya, dia tak jua berangkat ke Tiongkok sampai kira-kira April 1346 ketika musim barat daya dimulai dan kapal-kapal yang bertujuan ke Kanton, Tiongkok Selatan biasanya meninggalkan selat.

Ketika dirinya hendak menarik jangkar dari Samudra Pasai, Ibnu Battuta bercerita, bahwa Sultan al-Malik al-Zahir sempat memberikan kehormatan kepadanya dengan melengkapi persediaan makanan pada Jung yang dinahkodai oleh Ibnu Battuta.

Bahkan, Sang sultan juga mengirim seorang pejabat istananya untuk memberikan pelayanan yang baik pada acara-acara makan di Jung Ibnu Battuta.

“Dia (Sultan) menyediakan perahu untuk kami, mengantar kami, dan memberi bekal banyak kepada kami. Semoga Tuhan membalas dia,” ungkapnya dalam memoar kunjungannya ke negeri Samudra Pasai.

Menurut Ibnu Battuta, perjalanan dari Sumatra ke pantai di Tiongkok Selatan ditempuh kurang dari empat bulan. Itu pun, waktu normal berlayar hanya memakan waktu selama 40 hari.

Dalam perjalanan pulang dari Tiongkok ke India, Ibnu Battuta rupanya sempat mampir untuk kedua kalinya ke Samudra Pasai untuk mengganti kapal.

Dia datang mengunjungi Istana Sultan Malik al-Zahir selama beberapa minggu, yang Ketika itu Sultan baru saja menang berperang dan membawa banyak tawanan.

Bukan Peziarah Arab Pertama di Nuswantara

Kala itu, aktivitas perdagangan maritim sudah mulai aktif sejak kurang lebih lima abad sebelum masehi. Para peziarah dari Arab (Khususnya Bangsa Hadrami) berdagang merupakan aktivitas utama sembari menyebarkan agama Islam.

Perdagangan orang-orang Hadrami dengan Nuswantara tampaknya telah berlangsung sejak abad ketujuh. Mereka berniaga dan kembali dengan membawa hasil bumi yang akan diperdagangkan di tempat lain.

Kebanyakan dari mereka berhijrah karena situasi politik dan keamanan yang dialami oleh negerinya. Orang-orang Hadrami yang mulai bermigrasi dari kalangan sayid alawiyin (keturunan Nabi Muhammad melalui Fathimah dan Ali bin Abi Thalib).

Ilustrasi pedagang Arab di Nusantara. (Foto: titastamadunmelayu)

Menurut dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung, Hikmawan Saefullah menjelaskan, pada pertengahan abad ke-8 dan 9, rezim Umayah dan Abasiyah menjadikan kalangan Sayid sebagai target pembunuhan, karena ditakutkan menjadi ancaman politik.

Karena terus dikejar dan diintimidasi, mereka melarikan diri ke berbagai penjuru daerah seperti Afrika, Hijaz, Persia, dan India.

“Di antara yang melarikan diri ini, ada yang kabur ke wilayah Arabia Selatan, kemudian meneruskan perjalanannya melalui laut hingga ke wilayah Nusantara,” kata Hikmawan, yang juga seorang keturunan Arab Hadramaut dan lama meneliti sejarah Arab Hadramaut di Indonesia.

Mereka yang bermigrasi ke Afrika Timur dan India bisa kembali ke tanah air lebih mudah dan lebih sering daripada yang bermigrasi ke Nuswantara. Pasalnya, kapal layar Arab melakukan perjalanan dagang setiap tahun antara India, Arab, dan Afrika Timur.

“Sebelum jalur kapal uap didirikan di Samudra Hindia, berlayar ke Hindia Timur lebih memakan waktu, butuh berhenti di tengah perjalanan untuk menunggu angin muson selama hampir setahun,” tulis Linda Boxberger dalam buku “On the Edge of Empire Hadhramaut”.

Hampir seluruh hidupnya, Ibnu Battuta berkelana di dalam batas yang disebut Dar al-Islam. Sebuah ungkapan yang berarti negeri-negeri yang penduduknya mayoritas adalah Muslim.

Atau paling tidak, Raja-Raja dan Pangeran yang memerintah negerinya mayoritas seorang Muslim serta memberlakukan syariat atau hukum fikih Islam.

Ibnu Battuta merupakan musafir pertama yang mengunjungi hampir seluruh dunia Islam. Mulai dari Maghribi di Afrika, Tangiers di Maroko ke Jazirah Arab, sampai ke Asia Kecil “Bulan Sabit yang Subur”, lalu ke India, dan ujung Pulau Sumatra hingga ke Tiongkok.

Dari segi politis, Kerajaan Samudra Pasai merupakan pos luar paling akhir dari Dar al-Islam.

Menurut Dunn, sekalipun kota lainnya di sebelah selatan sepanjang pantai Sumatra telah mengembangkan permukiman komersial, namun tak ada negeri Muslim merdeka yang diketahui eksistensinya di sebelah timur Samudra Pasai sebelum pertengahan abad ke-14.

Di luar itu, Taufik turut menjelaskan, bahwa Ibnu Battuta bukanlah peziarah Arab pertama yang mewartakan tentang bumi Nuswantara. Ketika ia berkunjung, pengetahuan para ahli geografi dan pelayar Arab mengenai wilayah Kepulauan di Nuswantara telah cukup memadai.

Dari kiri: Ilustrasi gambar seorang seniman menunjukkan Ibn Battuta mendiktekan Rihla-nya, melewati ngarai yang berbahaya, dan berjalan dengan untanya. (Foto: 1001 Penemuan: Warisan Abadi Peradaban Muslim, edisi ke-3, halaman 250)

Meski sudah dikenal para Geograf Arab, hanya saja Ibnu Battuta lah yang pertama kali menuturkan hasil pengalamannya melalui rihla selama di Samudra Pasai.

Sebelumnya, hanya dikisahkan berdasarkan cerita mulut kemulut diantara para pedagang. Para Geograf kemudian mengulasnya berdasarkan kitab yang telah mereka tulis sebelumnya.

“Barulah pada akhir abad ke-16 pelayar Arab menghasilkan dua tulisan pendek tentang Samudra Hindia,” kata Taufik.

Kendati begitu, Dunn berkomentar, kisah perjalanan Ibnu Battuta ke Tiongkok diceritakan singkat. Petualangannya dari Maladewa ke Benggala, Sumatra, Tiongkok, dan kembali ke Maladewa hanya mencakup enam persen dari Rihla.

Namun paling tidak, Rihla Ibnu Battuta tetaplah merupakan catatan perjalanan muslim tentang Asia Timur. Ibnu Battuta menjelajah kurang lebih 29 tahun dengan mencapai 120.700 km. Ibnu Battuta pun dijuluki Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa.

Akhir kisah Sang Musafir

Tempat-tempat yang disinggahi diceriterakannya secara lengkap dengan bahasa yang indah, sehingga siapa yang membaca tulisan Ibnu Battuta atau mendengarkannya berhasrat untuk mengunjunginya.

Hampir seluruh dunia telah dijelajahinya, mulai dari Afrika Utara ke Timur Tengah, dari Persia ke India terus ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan India. Kemudian dilanjutkan ke arah Timur Laut menuju daratan China dan ke arah Barat hingga sampai ke Spanyol.

Ia menjadikan Makkah Al Mukaramah sebagai titik awal berlayar dan sebagai tempat kembali berlabuh. Sungguh suatu pengembaraan yang penuh kejadian penting dalam sejarah, sarat dengan makna dan hikmah.

Muhammad SAW pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu walaupun hingga ke negeri Cina”. Islam memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu pengetahuan, hingga ke tempat yang jauh sekalipun.

Ibnu Battuta berlabuh di Kanton, Tiongkok Selatan. (Foto: Shutterstock)

Terinspirasi hadits itu, Ibnu Battuta pun melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan membentuk konsep Al-Rihlah fi talab al-’ilmi (Perjalanan untuk Mendapatkan Ilmu Pengetahuan).

Petualangan Ibnu Battuta diakhiri usai bersafari dengan rombongan unta, melintasi Gurun Sahara menuju Kerajaan Mali di wilayah Sudan, Afrika Barat. Pada 1355, ia akhirnya benar-benar pulang kampung untuk menetap.

Setelah lama menjelajah ke setiap penjuru dunia, ia pun akhirnya kembali pulang ke kota kelahirannya, dan menghabiskan masa sisa hidupnya disana, hingga akhirnya wafat pada pada tahun 1377 M/ 779 H.

Dirinya dimakamkan di tanah kelahirannya, sebagaimana makamnya terdapat di kota wisata Tanger-Maroko.

Namun, masih menjadi perdebatan dimana sebenarnya makam sang Musafir tersebut, ada yang mengatakannya bahwa ia dimakamkan di di kota Fez atau Casablanca.

Pakar Sejarah, Dunn mengakui, belum tahu secara pasti dimana letak pusara Ibnu Battuta berada hingga kini.

“Pemandu wisata di Tangier hanya akan menunjukkan sebuah kuburan sederhana yang diduga keras menyimpan sisa-sisa kematian sang musafir,” tulis Dunn.

Kisahnya Sempat Terkubur dan Kini Diabadikan 

Karya ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan di Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Kisahnya yang luar biasa itu, konon dirampas dan disembunyikan Kerajaan Prancis saat menjajah benua Afrika, termasuk Maroko. Namun tak heran, bila karya-karyanya disimpan bangsa Barat.

Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya, International Astronomy Union (IAU) Perancis mengabadikan Ibnu Battuta menjadi nama salah satu kawah bulan. Kawah Ibnu Battuta itu terletak di Barat daya kawah Lindenbergh dan Timur laut kawah bulan terkenal Goclenius.

Di sekitar kawah Ibnu Battuta tersebar beberapa formasi kawah hantu. Kawah Ibnu Battuta berbentuk bundar dan simetris. Dasar bagian dalam kawah Ibnu Battuta terbilang luas.

Diameter kawah itu mencapai 11 kilometer. Dasar kawah bagian dalamnya terbilang gelap, segelap luarnya.

Situs makam Ibnu Battuta. (Foto: Ruben via Wikipedia)

Di dekat Stadion Tanger terdapat bentuk Globe kecil yang menandai kediaman Ibnu Battuta yang kecil. Begitu juga di kota kelahirannya, Bandar Udara kota Tanger diresmikan dengan namanya sebagai “Tangier Ibn Battouta Airport”.

Meski pengembaraannya telah berlalu sembilan abad silam, namun kebesaran dan kehebatannya hingga kini tetap dikenang dunia.

Berkat petualangan singkatnya ke Bumi Nuswantara, kini Bangsa Indonesia sangat dikenal di mata masyarakat Maroko, sebagai bangsa yang ramah, santun, toleran dan cinta terhadap agama Islam yang moderat. Hal itu juga diakui oleh para ulama Maroko.

“Masyarakat muslim Indonesia sangat terpuji akhlaknya, mereka memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap agama” pengakuan Dr Idris Hanafi, Dosen pakar Hadits beberapa waktu lalu saat menyampaikan kuliah studi Islam di Univ. Imam Nafie’, Tanger-Maroko. (ell/ras)

Sumber:

  • Historia, “Ibnu Battuta Singgah di Samudra Pasai” oleh Risa Herdahita Putri.
  • Dream.co.id, “Menguak Catatan Ibnu Batutah tentang Nusantara” oleh Eko Huda S.
  • Historia, “Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara” oleh Risa Herdahita Putri.
  • NU online, “Ibnu Batutah: Petualang Legendaris asal Maroko” oleh Muanif RIDWAN.
  • Historia, “Awal Mula Datangnya Orang-orang Arab ke Nusantara” oleh Hendri F. Isnaeni.
  • KataKita, “Nuswantara (Indonesia)” 
  • Historia, “Ibnu Battuta, Kisah Perjalanan Musafir Terbesar” oleh Risa Herdahita Putri.
  • Sumber lainnya

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *