Cipta Karya Batik Cirebon, Pancaran Warna Dibalik Makna Bhineka Tunggal Ika

Proses Membatik, Sorang perajin batik di desa Trusmi, Cirebon sedang melukis kain pilihan dengan menggunakan Canting. (Foto: @escapeartist.neverdie/Notif.id)

NOTIF.ID, HISTORI – Banyak cara manusia untuk mengabadikan peradaban. Salah satunya ialah karya Batik. Penciptaan sebuah mahakarya dari Kreativitas tinggi seorang manusia, yang telah menahbiskan kebudayaan leluhur sebagai puncak peradaban manusia dan alamnya.

Terlebih, bila dunia telah mengakuinya sebagai bagian warisan dunia yang perlu dijaga kelestariannya. Keberadaan Batik telah diakui oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang menetapkan Batik sebagai warisan dunia pada 2009 lalu.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cirebon telah mendaftarkan 10 motif batik Cirebon ke Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu warisan dunia, pada 2019 lalu.

Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan dan meningkatkan standarisasi perlindungan budaya Cirebon.

Memang, Cirebon merupakan ‘buyut’ dari sentra batik tertua yang memberikan pengaruh terhadap ragam pola batik di industri batik lainnya di Jawa Barat. Seperti tiga sentra industri batik lainnya yang berada di Jawa Barat, yakni di kota Indramayu, Tasikmalaya, dan Garut.

Batik merupakan proses melukis diatas medium kain dari lilin cair dengan menggunakan Canting. Jika tangan telah terampil, gerakan canting di jemari tangan akan mudah mengikuti alur dan motif seperti yang diinginkan.

Sejarah Batik di Cirebon, sangat terkait erat dengan proses asimilasi budaya serta tradisi ritual religius. Prosesnya berlangsung sejak Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam di tanah Caruban Nagari sekitar abad ke-16.

Budayawan dan pemerhati batik, Made Casta menuturkan, sejarah batik dimulai ketika Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, Persia, dan India.

Ilustrasi gambar Pelabuhan Muara Jati, Cirebon yang menjadi pintu asimilasi budaya pada masa Sunan Gunung Djati memerintah Caruban Nagari. (Foto: Sindonews)

Saat itu terjadi asimilasi dan akulturasi beragam budaya yang menghasilkan banyak tradisi baru bagi masyarakat Cirebon.

Pernikahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) yang merupakan cucu dari Raja Pajajaran dan putri Kaisar yang bernama Lie Ong Tien atau Putri Tan Hong Tien Nio merupakan ’pintu gerbang’ masuknya budaya dan tradisi Tiongkok ke keraton Cirebon.

“Pernak-pernik China yang dibawa Putri Ong Tien sebagai persembahan kepada Sunan Gunung Djati, menjadi inspirasi seniman termasuk pebatik,” tutur Made Casta.

Batik Cirebon Sarat Nilai Bhineka Tunggal Ika

Sejarah Batik di Cirebon juga terkait perkembangan gerakan tarekat ( aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam) yang konon penuangan gambarnya berbeda, dan nuansa Islam yang mewarnai setiap helai kain Batik Cirebon.

Pengaruh ini terlihat pada filosofi dari ‘Paksi Naga Liman’. Motif Paksi Naga Liman yang dituangkan kepada sehelai kain Batik, merupakan simbol yang sarat akan pesan keagamaan yang diyakini.

Paksi yang merupakan burung dengan badan bersayap adalah penanda simbol negeri Timur Tengah dan unsur Islam yang diturunkan di Timur Tengah.

Sementara Naga berbentuk kepala bermahkota hewan Naga merupakan wujud penguasa Caruban yang dinamakan Mang. Sosok Mang merupakan simbolisasi atas negeri Tiongkok dan kandungan anasir (pemahaman) kepercayaan Buddha.

Liman (belalai) adalah bagian dari gajah yang merupakan simbol Ganesha sebagai putra Dewa Siwa dari negeri India. Simbol ini menggambarkan unsur agama Hindu.

Motif Batik Cirebon “Paksi Naga Liman”. (Foto: Nilaifilososfibatikcirebon)

Menurut Patih Kanoman Cirebon, Pangeran Raja Moch Qodiran mengatakan, ‘Paksi Naga Liman’ merupakan simbol Cirebon sebagai negeri tempat terjadinya asimilasi dan pluralisasi dari tiga kebudayaan, serta menempatkan Cirebon pada puncak keunggulan peradaban pada masanya.

Motif ‘Paksi Naga Liman’ juga menggambarkan peperangan kebaikan melawan keburukan dalam mencapai kesempurnaan.

“Motif itu juga menggambarkan percampuran Islam, Cina, dan India. Para pengikut tarekat menyimpan pesan-pesan agamis melalui simbol yang menjadi motif karya seni termasuk pada motif-motif batik,” tutur Made Casta.

Di Cirebon, para pengikut tarekat tinggal di Desa Trusmi dan sekitarnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah, dan Panembahan di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.

Oleh karena itu, sampai sekarang Batik Cirebon identik dengan Batik Trusmi. Masyarakat Trusmi sudah ratusan tahun mengenal Batik.

“Eyang dari eyang saya sudah mengenal batik. Sampai sekarang turun-temurun. Awalnya memang Trusmi, sekarang dengan perkembangan yang pesat, masyarakat desa lain juga mengikuti tradisi Trusmi,” ungkap Made Casta yang juga merupakan alumnus ITB dan pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI).

Keberadaan tarekat seolah menjadikan Batik Cirebon berbeda dengan batik pesisir lain. Para pengikut tarekat pula lah yang awalnya merintis tradisi Batik ini.

Proses membatik di Cirebon berbeda dengan daerah lain, tak melulu di kerjakan oleh wanita. Awalnya, karena para pengikut tarekat yang membatik di Desa Trusmi kebanyakan adalah kaum lelaki.

Kegiatan membatik yang dilakukan oleh para pria di plered, Desa Trusmi, cirebon pada kisaran tahun 1920 – 1930. (Foto: COLLECTIE TROPENMUSEUM “Batikkende mannen te Troesmi Ceribon”).

Warna-warna cerah seperti merah dan biru menggambarkan maskulinitas dan nuansa dinamis dari campur tangan laki-laki dalam prosesnya. Di desa Trusmi, pekerjaan membatik merupakan pekerjaan semesta. Artinya, seluruh anggota keluarga berperan, si bapak membuat rancangan gambar, ibu yang mewarnai, dan anak yang menjemurnya.

Oleh karena itu, menurut Made Casta, warna-warna biru dan merah tua yang digunakan pada motif Megamendung, menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter.

Ornamen Batik Cirebon Dengan Tiga Ciri Khasnya

Batik bukanlah merupakan produk budaya yang seketika ada. Seorang seniman yang memakai suatu ragam hias, tak membuat begitu saja tanpa mengetahui arti dari karyanya, karena memang seniman tersebut telah mendapatkan ilmu dari gurunya.

Baca Juga:   ASN Donasikan Hartanya Demi Penanganan COVID-19 di Sumedang, Kini Terkumpul Rp 322 Juta

Metode membatik Cirebon secara keseluruhannya popular dikalangan Keraton Pakungwati /Caruban Nagari yang mengikuti pengaruh dari jawa tengah.

Jika dilihat dari ragam hiasnya Batik yang ada di Cirebon, bersumber dari seni hias zaman prasejarah seperti ragam hias geometrik dan ragam hias perlambangan.

Penerapan ornamen dengan berbagai motif geometrik pada batik, tak banyak beda dengan pola ornamen pada hiasan dekorasi dan benda kerajinan di daerah Caruban Nagari. Pola ornamen ini selalu menjadi ciri dasar dan selalu berulang pada karya seni rupa tradisional didaerah tersebut.

Tak hanya itu, kesenian Batik mempunyai kekuatan batin dan dasar-dasar rohani, yang tidak terdapat pada bentuk-bentuk seni yang lebih sempurna pada zaman berikutnya.

Diketahui, perajinnya secara khusus selalu berpegang teguh pada adat dan kebiasaan yang ada secara turun temurun, sejak masa pemerintahan Sunan Gunung Djati.

Foto yang diambil pada tahun 1912, terlihat gambaran tiga wanita yang sedang membatik. (Foto: Rijks via @potolawas)

Berdasarkan perkembangan sejarah Batik Cirebon, telah dibagi menjadi Batik Keraton Cirebon dan batik pesisiran Cirebon. Penggolongan tersebut dibedakan berdasarkan pada sifat ragam hias dan pola pewarnaannya, serta ditinjau dari sudut kelompok besar daerah pembuatannya.

Salah satu unsur penting pembentukan kebudayaan tersebut adalah letak geografis dari Caruban Nagari yang terletak di persilangan jalur lalu-lintas antara benua Timur dan benua Barat.

Bila ditinjau, ada tiga istilah dalam kesenian Batik Cirebon, yakni Batik Keraton, Batik Pecinan dan Batik Pesisir.

Motif Batik Keraton

Perjalanan awal Batik Keraton dimulai pada era pemerintahan Sunan Gunung Jati. Para pebatik istana membuat corak khusus seperti motif Galungan, Naga Liman, Kaung Benggol atau Dewandaru. Motif-motif tersebut dibuat berdasarkan berbagai ornamen yang ada di lingkungan keraton.

Ornamen-ornamen Hindu seperti Swastika, Gapura atau Padma yang terdapat di kesultanan cirebon juga dituangkan sebagai motif batik.

Batik Keraton dikembangkan oleh keluarga keraton dan masyarakat yang setia kepada sultan. Ornamen batik keraton memiliki pola yang baku, memiliki nilai simbolis, dan bermakna religius.

Wadasan yang biasanya disebut batik Keraton, merupakan Batik Keraton yang ditandai dengan ornamen-ornamen yang berasal dari Keraton Cirebon. Nama-nama untuk motifnya antara lain adalah Singa Payung, Naga Saba, Taman Arum, dan Megamendung.

Wadasan berasal dari kata ‘wadas‘, artinya adalah batu karang atau batu cadas. Ragam hias berupa batu karang atau batu cadas ini terinspirasi dari panorama alam daerah Cirebon sebagai daerah pesisir yang di pantainya banyak terdapat batu karang.

salah satu motif batik wadasan. (Foto: nlyliyani)

Ragam hias berupa batu karang ini ditemukan di keraton-keraton Cirebon, seperti keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman sebagai ornamen penghias taman yang disandingkan dengan patung-patung singa.

Di keraton Kasepuhan, ornamen batu karang ini dijadikan ornamen hias di dinding atau tembok keraton yang digambarkan dalam pola imajinasi menyerupai pola Megamendung dalam posisi vertikal.

Ragam hias Batik Wadasan ini ditemukan di semua jenis Batik Keraton ada yang menggunakan Motif Wadasan sebagai ragam hias utama, namun ada juga yang menggunakannya sebagai ragam hias pendamping saja.

Batik yang menggunakan Wadasan sebagai ragam hias utama kemudian dikenal dengan “Batik Wadasan”. Beberapa contohnya adalah motif Rajegwesi, motif Panji Semirang, motif Wadas Grompol.

Kata ‘Rajeg‘ pada Motif Rajegwesi memiliki arti, sedangkan kata Wesi artinya besi. Rajegwesi memiliki filosofi bahwa agar kehidupan aman dari gangguan luar, harus memiliki pengaman yang kuat dan kokoh.

Bagi masyarakat Cirebon yang mayoritas beragama Islam, Motif Wadasan merupakan perlambang agar dalam kehidupan setiap manusia memiliki dasar yang kokoh sekokoh batu karang, yaitu berupa iman dan akidah agama, yang tidak boleh goyah dan senantiasa istikamah dalam menghadapi godaan dari luar.

Motif Batik Pecinan

Evolusi motif Batik Pecinan terjadi pada tahun 1553. Bila melihat lebih dalam dari sejarah panjang motif Batik Pecinan, tak lepas dari akulturasi budaya Tiongkok yang datang ke tanah Jawa ke Cirebon ratusan tahun silam.

Budayawan dan pemerhati batik, Made Casta menuturkan, keraton Cirebon kala itu yang menjadi pusat kosmik kebudayaan.

Salah satu motif Batik Pecinan. (Foto: Belindomag)

Mulai dari kerajinan Keramik, porselen, atau kain sutra dari zaman Dinasti Ming dan Ching yang memiliki banyak motif telah menginspirasi seniman Cirebon.

Gambar simbol kebudayaan China, seperti burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu, kilin, banji (swastika atau simbol kehidupan abadi) menjadi akrab dengan masyarakat Cirebon.

Menurut Pakar Batik Cirebon, Katura menjelaskan, motif dari China tak sepenuhnya mendominasi, namun kekuatan ornamennya yang terdapat dari pernak-pernik yang berasal dari China telah mengilhami para seniman Cirebon untuk diadopsi.

“Jadi kalo full motif dari China sebenarnya tidak ada, namun hanya ornamennya saja yang diadopsi dari ornamen-ornamen pernak-pernik yang berasal dari China,”

“Sebetulnya bukan bergaya China, tetapi memiliki ornamen-ornamen yang disadur dari ornamen China. Karena, Sunan Gunung Djati memilki istri dari China dan mempunyai barang-barang yang mempunyai ornamen yang menarik, dari situlah para seniman itu lebih memilih motif pernak-pernik itu dialihkan ke motif untuk batik,” jelasnya.

Warna-warna kuno seperti ‘Sogan’, cokelat atau hitam yang biasanya mendominasi pewarnaan pada Batik, lambat laun mengalami pergeseran dengan masuknya warna merah, biru, atau kuning yang merupakan warna khas dari Negeri Tirai Bambu.

Baca Juga:   Kapolda Jabar Imbau Masyarakat untuk Tidak Konvoi saat Merayakan Tahun Baru

Hal ini merupakan bukti betapa kuatnya pengaruh permaisuri dalam Keraton. Adanya Porselen-porselen dari Tiongkok yang sekarang masih terlihat menempel di dinding-dinding, dapat ditemui pada situs-situs kebudayaan Cirebon.

Porselen-porselen asal tiongkok yang berada di dinding makam Sunan Gunung Jati. (Foto: ppmaswaja)

Menurut Arkeolog, Dr. Kusnin Asa mengatakan, motif Batik Pecinan memang kental dengan pola-polanya yang memang sudah dimiliki oleh masyarakat pebatik Pecinan Cirebon.

“(batik)Pecinan ini murni tak mengikuti Batik Keraton, akan tetapi dia (motif China) mempunyai suatu karakter sendiri di dalam pola-polanya yang memang sudah dimiliki oleh masyarakat pebatik pecinan di Cirebon. Maka, disitulah motif China lebih kental, terutama pada isen-isen dan sulur,” katanya.

Empat ratus tahun kemudian, pihak Keraton tidak lagi mensakralkan motif Batik Keraton untuk kalangan istana saja. Tetapi, pihak keraton lambat laun mulai menerbitkan surat wewenang khusus kepada pebatik umum untuk memproduksi motif Keraton dan Pecinan.

Menurut Arkeolog, Dr Kusnin Asa mengatakan, Pada Zaman Kolonial Belanda, Batik Cirebon tidak mengalami banyak perkembangan. Namun Pebatik Pecinan, mengabadikan keadaan kala itu dengan berbagai cara dalam berbagai produksinya.

“Sedang di Cirebon, pada masa era Kolonial hampir saja tidak ada suatu inovasi. Karena Kolonial tidak memberikan suatu peluang dimana Batik bisa dikembangkan dengan baik pada kala itu,” ucapnya.

Salah satunya perajin Batik Pecinan yang diberikan wewenang untuk memproduksi Batik, ialah Gouw Tjin Liang pebatik Pecinan asal desa Trusmi, Cirebon yang sejak tahun 1934 menetap di daerah Kanoman.

Kepiawaian Gouw Tjin Liang lalu diwariskan secara turun temurun hingga pada Indrawati (Gouw Yang Giok) yang merupakan generasi ke-6.

Indrawati, yang merupakan penerus batik Pecinan generasi ke-6, menunjukkan sebagian batiknya saat dijumpai di kediamannya, pada 15 Januari 2020. (Foto: Fedrik Tarigan via Jawa Pos)

Kini, Indrawati sebagai penerus tetap mempertahankan konsep leluhurnya, bahkan dirinya sudah dibantu oleh karyawan-karyawannya. Ibu dari 3 anak ini terus mengumpulkan motif Batik dari abad 18 untuk didesain ulang.

“hanya untuk Batik-Batik Keraton yang tertentu, leluhur kami ini mendapatkan izin dari keluarga Keraton untuk membuat motif-motifnya dan warna-warna dari Keraton Cirebon. Sehingga kami mendapatkan surat pernyataan pada waktu zaman Belanda yang disebut surat Verklaring,” tuturnya.

Bisa dibilang, Batik Pecinan sangat konsisten terhadap jalurnya, warna merah dan biru adalah dua warna yang terus dipertahankan keturunannya.

Menurut Arkeolog, Dr. Kusnin Asa, Pada abad 17 sampai 18, Batik Pecinan lebih berkembang ketimbang Batik Keraton. Keberanian memainkan warna, menjadikan perdagangan Batik Pecinan Cirebon merambah ke pasar Batavia. Bahkan, mempengaruhi busana masyarakat Batavia kala itu.

“Batik Pecinan berkembang untuk supply ke Batavia, sehingga Batik Pecinan itu mempengaruhi masyarakat Betawi atau masyarakat Batavia di masa Kolonial,” ujarnya.

Boleh dibilang Batik Pecinan sangat konsisten terhadap jalurnya, warna merah dan biru adalah dua warna yang terus dipertahankan keturunannya.

Motif Batik Pesisiran

Berdasarkan naskah dari kitab ‘Saksaka Dankara Siang’, Batik pesisir sudah ada semenjak abad 13 dan 14. Batik tersebut dibuat oleh pebatik yang berada diluar daerah tembok Istana.

Cirinya sangat kuat, yakni motif yang dibuat biasanya bertemakan flora dan fauna. Jika pebatik yang tinggal di daerah pantai, motif yang diusung pun tak jauh dari kekayaan bahari. Sedangkan bagi pebatik yang tinggal di daerah dataran tinggi, biasanya menjadikan sawah, petani, atau fenomena alam Megamendung sebagai corak Batik yang cukup atraktif.

Dalam perjalanannya, Batik Pesisir Cirebon juga mengikuti perubahan sesuai eranya, terutama pada desain gambar.

Batik Pesisiran, seperti tidak pernah kekurangan motif. Segala yang berkembang merupakan ide tanpa batas dalam menuangkan kreasi dan mempertahankan jadi diri dari Batik Pesisir. Kini, sudah sekitar 200 motif Pesisir yang dipatenkan untuk diakui dunia.

Salah satu motif batik pesisiran Cirebon. (Foto: bukubiruku)

Pengakuan ini disampaikan oleh katura yang merupakan penerus ke-8 Batik Pesisir Cirebon, dirinya tinggal di Desa Trusmi, Cirebon dan membatik untuk melestarikan keaslian Batik Khas Cirebon.

“motifnya (Batik Pesisir) diambil dari Flora dan Fauna dari laut, maupun dari darat. Seperti, udang, ikan, ganggang (rumput laut) dan yang diambil motifnya dari darat ialah kupu-kupu dan hewan yang lainnya, termasuk tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar kita yang dituangkan dalam motif-motif Batik. Adapun warnanya, terbebas menggunakan warna merah, biru, kuning dan sesuai dengan warna orang pantai,” tuturnya.

Pria kelahiran 15 Desember 1955 ini berharap, Batik Pesisir tetap menjadi ‘roh’nya dalam berkarya. Karena kepekaan terhadap lingkungan menjadikan pebatik ulung di Cirebon tak lekang dimakan perubahan.

Menurut Arkeolog, Dr. Kusnin Asa menyebutkan, bahwa Batik Pesisir berkembang sebagai suatu kepentingan ekonomi.

“karena batik Pesisir dibangun bukan untuk kepentingan Raja dalam hal Kesakralan. Maka, Batik Pesisir berkembang sebagai suatu kepentingan ekonomi. Ciri-cirinya memiliki warna yang dinamis, dan kemudian polanya terbebas, dan orientasi lingkungannya kuat,” terangnya.

Kepandaian adopsi apa yang ada disekitar, membuat pebatik Pesisir menemukan teknik membuat garis ukir yang dikenal dengan wit.

Teknik Wit dan Corak Khas Pembeda Batik Cirebon

Teknik wit adalah satu garis batas yang dibuat dengan cara diblok berlapis dengan lilin, agar terbentuk satuan garis lengkung yang halus. Proses pembuatannya pun diakui rumit dan penuh ketelitian.

Indrawati bahkan mengatakan bahwa teknik wit yang menjadi pembeda antara Batik Cirebon dan yang lainya.

Wit di kota Cirebon, tembokannya itu kecil karena menemboknya juga agak sulit karena Berbeda dengan yang lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga:   KPK Tetapkan Iwa Karniwa Jadi Tersangka, Ridwan Kamil Enggan Berkomentar
Ilustrasi teknik wit pada proses penggambaran di kain batik (Foto: kamutau)

Pengerjaan garis wit pada kain dalam bahasa Cirebon disebut ‘anglengreng‘ (menggambar pola). Pada proses pengerjaannya, penggambar pola atau tukang lengreng hanya menggambar satu goresan garis wit.

Dengan demikian, pada tahapan selanjutnya (nembok atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai), pembuat tembok harus membuat sendiri garis wit tersebut.

Hal ini yang menyebabkan seorang pembuat tembok harus memiliki keahlian khusus agar terbentuk pola batik sesuai dengan yang diinginkan.

Selain teknik wit, tak kalah menarik adalah komposisi warna, gaya, dan corak Batik Pesisir yang selalu diburu wisatawan untuk berbagai keperluan.

Batik Megamendung yang Melegenda

Batik Megamendung identik dan bahkan menjadi ikon batik pesisiran Cirebon. Tak lepas dari akulturasi budaya Tiongkok, batik ini memiliki ciri khas yang tidak dijumpai di daerah-daerah pesisir penghasil batik lain di utara Jawa seperti Indramayu, Pekalongan, maupun Lasem.

Kekhasan motif Megamendung atau ‘awan-awanan’ tidak saja tertuang pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas seperti biru dan merah.

Tetapi, terdapat nilai-nilai filosofi yang juga terkandung pada motifnya. Hal ini sangat erat berkaitan dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.

“Tentu dengan sentuhan khas Cirebon, sehingga tidak sama percis. Pada Batik Megamendung, garis-garis awan motif China berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan Megamandung Cirebon cenderung lonjong, lancip, dan berbentuk segitiga. Ini yang membedakan motif awan China dan Cirebon,” tutur Made Casta.

Salah satu jenis motif dari Batik Megamendung. (Foto: Net)

H. Komarudin Kudiya, S.I.P., M.Ds.-Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB)- pemilik showroom Batik Komar di Kota Bandung mengemukakan, persentuhan budaya Tiongkok dengan seniman Batik Cirebon melahirkan motif batik baru khas Cirebon.

“Meski Megamendung terpengaruhi China, dalam penuangannya secara fundamental berbeda. Megamendung Cirebon sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya simbol perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai mati. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi,” tuturnya.

Motif Megamendung sebagai motif dasar Batik sudah dikenal luas sampai ke manca negara. Sebagai bukti ketenarannya, motif Megamendung pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul “Batik Design”, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen.

Pada motif Megamendung, selain perjalanan manusia, juga ada pesan terkait kepemimpinan yang mengayomi, dan juga perlambang keluasan dan kesuburan.

Komarudin mengemukakan, bentuk awan merupakan simbol dunia luas, bebas, dan transenden. Ada nuansa sufisme di balik motif itu.

“Motif Megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif Megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya,”

“Pernyataan ini tidak bermaksud membatasi bagaimana motif Megamendung diproduksi, tapi lebih kepada ketidak setujuan penggunaan motif Megamendung untuk barang-barang yang sebenarnya kurang pantas, seperti misalnya pelapis sandal di hotel-hotel,” kata Komarudin.

Terciptanya Batik Pagi Sore di Masa Pendudukan Jepang

Memasuki masa pendudukan Jepang, Batik Cirebon mengalami saat-saat paling surut karena sulitnya bahan baku pembuatan Batik. Seperti sentra batik lainnya, para pebatik dikala itu menyiasati dengan membuat ‘Batik Pagi Sore’.

“pada masa pendudukan Jepang, Hampir setiap pagi dan sore merupakan waktu dimana masyarakat bisa menggunakan Batik diwaktu-waktu pagi atau sore. Karena, keadaan ekonomi di masa itu sulit, sehingga seseorang ingin terlihat eksklusif menggunakan kain Batik agar terlihat ganti-ganti dan kain Batik tersebut dibagi menjadi dua,”kata Dr Kusnin Asa.

Salah satu motif Batik Pagi Sore. (Foto: Knowyourbatik)

Indrawati juga menambahkan, Batik Pagi Sore yang dimaksud ialah dua bagian yang berbeda. Dengan sisinya terdapat pembatas jika mana digunakan untuk keperluan pesta dan bagian lainnya bisa diganti untuk keperluan lainnya. Maka dari itu, disebutnya Batik Pagi Sore.

“tumpalnya juga sama, kiri dan kanan selalu memiliki tumpal. Biasanya Batik-batik yang sekarang, kini hanya terdapat satu tumpal, disebelah kanan dan kiri atau kedua-duanya dapat dipakai namun tetap sama. Bila Tumpalnya dipasung, disisi lainnya juga dipasungkan.”jelasnya.

Memasuki era modern, Batik tidak lagi dikotak-kotakan berdasarkan motif. Kini, batik telah menjadi bagian dari masyarakat dalam busana keseharian.

Bagi para kalangan perajin Batik, aturan dan warna kain Batik kini tak lagi beraliran klasik dan kuno. Kombinasi motif sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Khusus beberapa karya asli Keraton, tetap dibuat untuk konsumsi para kolektor Batik.

Batik merupakan salah satu khasanah kebudayaan asli Indonesia. Makna simbolik serta sejarah panjang suatu produk seni budaya.

Jauh dalam sejarah, walau tak hadir di zamannya. Namun, dengan menelusuri pengaruh-pengaruh terpenting dari zaman sejarah dan zaman prasejarahnya, sebuah makna Bhineka Tunggal Ika membentuk ciri khas masyarakat dan seni budaya Indonesia hingga kini. (ell/ras)

Sumber:

  • Liputan6 “Ketika Jiwa Paksi Naga Liman Bersemai dalam Raga Manusia” oleh Panji Prayitno.
  • “Sejarah Motif Batik Cirebon” oleh Yan Surya.
  • Infobatik “Batik Keraton Cirebon Motif Wadasan”.
  • “Sejarah Tiga Keraton Terkait Batik Cirebon” oleh Gunung Jati Cirebon.
  • “Batik Cirebon (Tinjauan Ornamen Batik Trusmi Cirebon)” oleh Irin Tambrin.
  • Sumber Lainnya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here