Risau Kelakuan Turis, Kini Amsterdam Fokus Perketat Aturan Wisata Ganja

Etalase oleh-oleh di salah satu toko di Amsterdam yang menjual produk cokelat dengan kandungan ganja (Foto: Afif Farhan via detikTravel)

NOTIF.ID, AMSTERDAM – Amsterdam tengah berusaha mengatasi overtourism (serbuan turis) dalam beberapa tahun terakhir dan menertibkan turis yang berkunjung untuk menikmati ganja di kedai kopi yang menjual ganja.

Walikota Amsterdam, Femke Halsema mengatakan, bahwa kedai kopi ganja di Amsterdam dapat membuat “kualitas hidup di pusat kota berada di bawah tekanan,” tulisnya dalam surat kepada anggota dewan sebelum survei berlangsung pada Juli 2019.

Ia juga menuntut pemerintah agar fokus “mengurangi daya tarik ganja bagi wisatawan” dan membuat pasar ganja Amsterdam lebih transparan.

Menurutnya, hal ini dilakukan demi menyeimbangkan kualitas hidup penduduk lokal dengan jumlah kedatangan turis dan tidak adanya turis berperilaku buruk saat berwisata di Amsterdam.

Menurut seorang Jurnalis di Amsterdam, Isabelle Gerretsen mengatakan bahwa penduduk Amsterdam ingin melestarikan pusat bersejarah dan tak mau melihat dampak buruk terjadi pada masa depan kotanya.

“Dapat dimengerti bahwa penduduk Amsterdam ingin melestarikan pusat bersejarah mereka yang indah, dan juga menjalani kehidupan sehari-hari mereka tanpa terus-menerus dihadang oleh turis yang ribut,” katanya, kepada CNN, pada Rabu, 19 Februari 2020.

Melihat pembatasan wisata ganja, kata Gerretsen, merupakan serangkaian tindakan yang bertujuan untuk mempertahankan status kota sebagai pusat budaya, daripada taman hiburan untuk ‘turis gulma’.

“Tapi dari semua tindakan, itu paling berisiko … Karena Amsterdam dikenal di seluruh dunia karena kebijakannya yang toleran terhadap obat-obatan terlarang. Ini dapat menyebabkan penurunan jumlah wisatawan.” ungkapnya.

Dari survei yang dilakukan oleh pemerintah setempat pada Agustus 2019, yang diikuti oleh 1.100 turis mancanegara berusia diantara 18 sampai 35 tahun yang mengunjungi Wallen dan Singel (Red Light District) Amsterdam.

Diketahui, kawasan Red Light District menjadi salah satu fokus peraturan pariwisata baru. Sementara, sekitar 57 persen responden mengatakan kedai kopi ganja merupakan alasan utama mereka berwisata ke Amsterdam.

34 persen lainnya mengatakan, berpikir dua kali untuk berkunjung ke Amsterdam jika mereka tidak dapat mengunjungi kedai kopi ganja, dan 11 persennya menegaskan, mereka tidak akan berkunjung sama sekali.

Selanjutnya, pemerintah setempat akan mencanangkan peraturan baru pada 1 April 2020 mendatang. Untuk mengatur para turis, pemerintah akan berlakukan tiket masuk berkunjung ke kawasan Red Light District.

Hal ini dilakukan untuk mengatur lalulintas para turis datang ke kawasan prostitusi legal, seperti jembatan sempit atau jalan masuk baru lewat pukul 22.00 malam yang diindikasikan beresiko memicu tekanan, seperti konflik. Bagi pemandu wisata yang kedapatan melanggar aturan tersebut, akan dikenakan denda 190 euro.

Tanggapi rencana aturan tersebut, menurut survei, 32 persen turis mengatakan, mereka tidak akan berkunjung dan 44 persen lainnya menjawab akan jarang berkunjung.
Sementara itu, 72 persen beralasan mengunjungi kedai kopi ganja selama masa kunjungan bisnis mereka di Amsterdam.

Faktanya dalam survei, kedai kopi ganja menjadi tempat favorit para turis mancanegara ketimbang berkunjung ke kawasan Red Light District. Hanya 1 persen dari mereka yang menyebutkan prostitusi sebagai alasan utama kunjungan.

Memang, untuk kedai kopi ganja di berbagai kota di Belanda memiliki aturan yang berbeda, dan diskusi mengenai turis berwisata ganja bukanlah hal baru.

Percakapan ini sempat mencuat pada tahun 2011 dan 2012 lalu yang mendebatkan usulan kedai kopi ganja hanya boleh dinikmati oleh penduduk lokal saja. Saat ini, aturan itu sudah diberlakukan di Maastricht, selatan Belanda.

Jual beli ganja dari kedai kopi merupakan kegiatan yang legal di Belanda, tetapi memproduksi ganja tetap merupakan kegiatan ilegal.

Salah satu turis asal Inggris, Allan Claydon (24), setuju mengenai pengaturan kedai kopi ganja. Ia mengatakan tidak berpikir dampak pembatasan tersebut akan merubah daya tarik Amsterdam bagi turis mancanegara.

“Saya tidak berpikir pelarangan ganja akan merusak pariwisata … Kota ini juga terkenal dengan budayanya dan estetikanya yang cemerlang.” katanya.

Survei baru di Amsterdam menunjukkan, bahwa pembatasan wisata ganja bagi turis tak selalu berarti pengurangan overtourism atau pengurangan penggunaan ganja. Dari hasil survei kepada para turis menyebutkan, 29 persen mengatakan mereka akan beralih ke rute dan cara lain untuk mencari ganja. (*)

Sumber: CNNIndonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here